Partager

BAB 45

Auteur: Mikaelach09
last update Date de publication: 2026-05-24 19:58:00

Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri.

Dan tepat saat suasana mulai terasa terlalu tenang, ponselku bergetar di atas meja.

Layar menyala, menampilkan nama pengirim pesan-Layla.

Layla

Sen, lo di mana sih? Kok lama banget, katanya cuma cari snack.

Aku terdiam beberapa detik, menatap layar ponsel dengan jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat-bukan karena Althaf, tapi karena kenyataan di luar kamar ini yang baru saja menggedor pikiranku.

Baru sekarang aku ingat.

Aku berbohong pada
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 49

    Kata-katanya jatuh pelan, tapi masing-masing menghantamku dengan keras. Terlalu jujur untuk tak melukai.Aku menggigit bibir, menatapnya perlahan. Ada bagian dari diriku yang ingin membantah, marah karena dituduh, tapi bagian lain justru hancur karena tahu - di balik semua amarah itu, Revan sedang patah hati. Karena aku.Aku menelan ludah, suaraku nyaris bergetar. "Gue nggak tahu harus ngomong apa, Van..."Revan mengembuskan napas panjang, pandangannya jatuh ke tanah sebelum akhirnya menatapku lagi untuk terakhir kalinya. Matanya basah, tapi senyum tipis muncul di sana - senyum yang lebih menyakitkan dari tangis mana pun."Lo nggak perlu ngomong apa-apa," katanya pelan. "Gue cuma butuh waktu... sebelum perasaan ini bikin gue benci sama lo."Dan kalimat itu - lembut tapi menghancurkan - menggema di dadaku lebih keras dari teriakan apa pun. Membekas seperti luka yang nggak bisa disembuhkan waktu.***Aku kembali ke kamar dengan langkah pelan, nyaris terseret. Rasanya setiap langkah sepe

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 48

    Aku hanya bisa menunduk, jemariku menggenggam erat ujung bajuku. Ya Tuhan, masalah apalagi ini? Hatiku terasa sesak - bukan karena bersalah, tapi karena aku bisa melihat betapa dalam luka yang terpancar dari mata Revan."Revan, jaga mulut lo. Jangan ngomong gitu," ucapku cepat, nada suaraku meninggi tanpa sadar. "Pak Althaf tetap dosen kita, lo harus hargai itu." Kata-kata itu keluar begitu saja, refleks - bahkan sebelum aku sempat berpikir panjang. Entah kenapa, bagian dari diriku merasa harus membela.Revan tertawa kecil, getir, nyaris tanpa suara. "Hargai?" ulangnya pelan, matanya menatapku tajam. "Jadi sekarang lo belain laki-laki bajingan itu? Dosen yang ngundang mahasiswinya ke kamar hotel?""Revan!" suaraku meninggi kali ini. "Dia dosen kita, lo nggak bisa panggil dia begitu!"Tapi Revan malah menghela napas panjang, pandangannya semakin kelam. "Kenapa nggak bisa, Sen? Karena dia dosen? Karena lo takut ngaku kalo dia udah bikin lo bingung sendiri?" Suaranya bergetar, bukan lagi

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BSB 47

    Aku melangkah keluar dari kamar Althaf dengan langkah pelan. Suara pintu yang menutup di belakangku terdengar lembut, tapi cukup untuk membuat dadaku kembali berdebar. Entah kenapa, setiap kali aku mengingat tatapan matanya tadi-tenang, dalam, dan sedikit hangat-napasku seperti ikut tersangkut di tenggorokan.Udara koridor pagi itu terasa sejuk, tapi wajahku justru panas. Ada sesuatu yang berputar di dalam dada, aneh dan sulit dijelaskan. Campuran antara gugup, senang, dan... gundah. Seolah sebagian diriku ingin tersenyum, tapi sebagian lain takut karena tahu ini bukan hal yang seharusnya kurasakan.Tanganku refleks menyentuh kalung di leherku. Rantainya halus, terasa dingin di kulit, tapi setiap kali jariku menyentuh liontinnya, aku bisa mengingat dengan jelas bagaimana Althaf memakaikannya. Caranya mendekat, suaranya yang pelan tapi dalam, sentuhan jemarinya yang berhati-hati di tengkukku. Rasanya seperti waktu berhenti sebentar.Aku menunduk sedikit, memandangi kalung itu. Aku masi

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 46

    Hening.Waktu seolah berhenti tepat di antara kami.Detik jam di dinding terasa melambat, udara di kamar menjadi hangat dan tenang.Aku hanya bisa menatapnya, tanpa tahu harus berkata apa.Ada sesuatu yang mengalir lembut di antara kami-perasaan yang selama ini kupikir sudah hilang, ternyata hanya bersembunyi di balik semua luka dan gengsi.Althaf menunduk sedikit, suaranya terdengar lebih pelan, seolah ia sedang berbicara bukan untuk didengar, tapi untuk diakui."Saya cuma... ingin memperbaiki sesuatu," katanya lirih. "Meskipun mungkin, sudah agak terlambat."Kata-katanya jatuh pelan, tapi menembus dalam.Aku menunduk, menatap kalung di tanganku. Jemariku menyentuh liontin kecil itu-dingin, tapi entah kenapa, terasa seperti menyimpan sisa hangat dari telapak tangannya."Terima kasih, Mas," bisikku akhirnya.Suaraku nyaris tak terdengar, tapi Althaf tersenyum pelan, seolah setiap kata itu lebih dari cukup.Aku masih menatap kotak itu, belum juga berani menutupnya. Jemariku menyentuh r

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 45

    Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri.Dan tepat saat suasana mulai terasa terlalu tenang, ponselku bergetar di atas meja.Layar menyala, menampilkan nama pengirim pesan-Layla.Layla Sen, lo di mana sih? Kok lama banget, katanya cuma cari snack.Aku terdiam beberapa detik, menatap layar ponsel dengan jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat-bukan karena Althaf, tapi karena kenyataan di luar kamar ini yang baru saja menggedor pikiranku.Baru sekarang aku ingat.Aku berbohong pada Layla dan Citra. Kataku, aku cuma mau ke minimarket buat beli snack dan perlengkapan kecil yang kurang.Aku buru-buru mengetik balasan, berusaha menahan rasa bersalah yang tiba-tiba muncul di dada.Maaf ya, tadi gue duduk bentar sekalian cari WiFi. Di sini sinyalnya kenceng.Kutarik napas sebelum menekan tombol send.Pesan itu terlihat sederhana, tapi entah kenapa jariku sedikit gemetar. Mungkin karena kebohongan kecil itu terasa terlalu berat di tengah kejujuran yang mulai terasa di sini... be

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 44

    Cahaya matahari pagi makin masuk lewat tirai, menyorot wajah Althaf yang kini tampak lebih lembut dari sebelumnya.Dan di tengah keheningan itu, aku sadar...mungkin untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak lagi ingin melawannya."Sudah, jangan kebanyakan bengong dan ngambek. Saya minta maaf," suara Althaf akhirnya memecah keheningan yang sempat menggantung di antara kami.Aku refleks menoleh, menatapnya tak percaya. "Enak aja, saya nggak ngambek, Mas," sahutku cepat, sedikit kesal. Tapi ekspresiku malah membuatnya tersenyum lagi.Sumpah. Hari ini entah sudah berapa kali Althaf tersenyum. Apa dia kesambet atau apa? Ini benar-benar bukan Althaf yang aku kenal."Kemarilah, Senjani."Nada suaranya tenang, tapi tetap punya wibawa yang khas. "Kamu perlu asupan nutrisi sebelum kita berangkat study tour. Sejak perjalanan tadi pagi kamu belum makan dengan benar, kan?"Aku mengerutkan kening. "Kok Mas tahu?"Tapi belum sempat ia menjawab, pandanganku sudah tertuju pada meja kec

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status