"Tapi, Mas..""Udah, nggak ada tapi-tapian." Kali ini ucapan bagas benar-benar ketus.Linda terdiamLaras yang melihat suasana diantara keduanya mulai memanas, akhirnya angkat bicara. Kalau dilanjutkan, bisa-bisa ia telat ke kantor. "Mas, inget.. jangan marah-marah."Bagas menoleh. "Maaf, Sayang.""Nggak baik buat..""Buat bayinya, iya Mas tahu," potong Bagas. "Maaf ya istriku, malah kamu yang lebih perhatian ke anak kita."Bukannya minta maaf ke Linda, Bagas malah minta maaf ke Laras.Lagi-lagi Laras.Padahal baru beberapa menit yang lalu Bagas membandingkan masakannya dengan Laras. Dan sekarang Bagas melakukannya lagi.Terlalu lama menahan emosi, Linda akhirnya meracau. "Anak kita? Ini anak Linda sama Mas Bagas, kenapa Mbak Laras..""Linda cukup!" bentak Bagas. "Kamu harus menghormati Laras, Lin. Dia istri Mas, ke depannya pun kamu juga. Laras saja sudah mau menerima kamu," tegur Bagas."Maaf, Mas.." Linda berusaha mengalah.Meskipun penglihatannya kabur karena air mata yang menggen
続きを読む