"Sendirian? Nggak sama suami kamu?""Oh itu.. Mmm.. saya langsung ke sini pulang kantor," dusta Laras.Bohong, batin Raksa.Tapi Raksa justru mengangguk, tidak ingin semakin menyulitkan Laras. Ia bisa memahami kenapa Laras tidak mau jujur, pasti ada alasan di baliknya. Ia tidak mau mencampuri kehidupan pribadi Laras. "Begitu," jawabnya.Beberapa saat mereka hanya saling diam.Lalu Laras baru menyadari satu hal, matanya memperhatikan tangannya yang masih memegang gelas yang tadi ia minum. Dan ternyata itu milik Raksa.Matanya sontak membelalak. Ia buru-buru meletakkannya kembali di meja."Maaf, Pak," ucap Laras penuh sesal.Raksa mengikuti arah pandangan Laras, ia melihat gelas itu. Kemudian ia kembali menatap Laras. Ekspresinya berubah licik, rasa ingin menjahili Laras muncul di benaknya.Raksa yang tidak kunjung menjawab membuat Laras semakin salah tingkah."Pak, saya tadi nggak lihat kalau..""Iya, saya tahu, Laras." Potong Raksa."Maaf..""Nggak perlu, kan saya yang kasih kamu minu
続きを読む