Elowen membeku. Napas Aisar terasa hangat di lehernya, membuat seluruh tubuhnya menegang. Namun yang lebih membuat dadanya sesak adalah nada suara pria itu—dingin, lelah, dan penuh kemarahan yang selama ini dipendam sendirian. “Seharusnya sudah kubakar kerajaan itu sejak awal,” bisik Aisar, yang masih terus diselingi tawa getirnya. “Aku muak pada mereka semua.” “A-Anda tidak sungguh-sungguh mengatakan itu, Tuan … saya yakin itu,” bisik Elowen. Aisar terkekeh lebih keras. Tawanya tidak terdengar bahagia sama sekali. “Kenapa tidak? Bukankah mereka memang berharap aku menjadi monster? Aku hanya mengabulkan apa yang mereka mau.” Tangannya masih melingkar di pinggang Elowen, tetapi perlahan cengkeramannya melemah. Seolah seluruh tenaga pria itu habis hanya untuk menahan dirinya sendiri. “Menurutmu, apa terlahir sebagai putra seorang selingkuhan, membuatku begitu rendah, Elowen? Apa kau juga menganggapku seperti itu?” “Tidak, Tuan. Tidak seperti itu.” Tangan Elowen mulai terangkat.
Last Updated : 2026-05-10 Read more