“Cukup, Aisar!” Dominique akhirnya bersuara. Matanya masih kosong menatap Aisar dan Adrien silih berganti. “Kau tidak bisa se enakmu mengeksekusi prajurit kerajaan,” lanjutnya. Adrien terkekeh hambar. Dia menepis pedang Aisar dengan pedangnya. “Kau dengar itu anak haram?” cela Adrien. “Seharusnya kau tidak lupa posisimu di istana ini—” “Adakah seorang ksatria yang mengangkat tangannya pada wanita, Baginda?” potong Aisar, lalu mengulas senyum. Dia menatap Adrien dan Dominique silih berganti. “Jika prajuritnya saja tidak memiliki moral, lalu bagaimana kondisi para petingginya?” Kalimat itu bukan hanya membuat Dominique mengeraskan rahang, tapi juga jajaran petinggi kerajaan yang ikut menatap Aisar penuh kebencian. “Jaga ucapanmu, Aisar!” Dominique akhirnya berdiri. Jubahnya jatuh begitu berat. Matanya menghunus ke arah Aisar. “Sekalipun kau berbakat, aku tidak bisa memaafkan semua penghinaan itu, Aisar. Berhenti, sebelum aku menjatuhkan hukuman—” “Jatuhkan Baginda,” potong Aisar
최신 업데이트 : 2026-05-22 더 보기