Pintu tertutup, bersamaan dengan hembusan napas kasar Elowen. Aisar mengernyit sebentar, lalu terkekeh ringan. “Apa dia sangat menakutkan, Elowen?” goda Aisar. Elowen langsung menoleh. Bahkan ekspresi tegang dan kekesalah Aisar hilang dalam sekejap. Yang ada hanya tawa, sampai membuat mata pria itu menyipit. “Tuan Muda baik-baik saja?” tanya Elowen tanpa sadar. Aisar mengernyit sebentar, lalu kembali mengulas senyum. Dia menarik napas panjang. Maju satu langkah. Mendekat. “Menurutmu, siapa yang seharusnya dikhawatirkan lebih dulu?” Aisar memiringkan wajahnya. Menatap Elowen lebih dalam. “Kau yang begitu pucat, atau aku yang bahkan tidak terusik sedikitpun.” Entah kenapa, ucapan Aisar berhasil membuat Elowen kembali menangis. Pria itu berusaha kuat. Berusaha menyembunyikan semua lukanya. Tanpa dia sadari, kalau sorot mata tidak akan bisa berbohong. “Tuan…” tanpa sadar, tangan Elowen terangkat. Dengan lancang, dia menyentuh pipi Aisar, lalu baik ke mata Aisar. Menutup sebe
최신 업데이트 : 2026-05-20 더 보기