Loviana menggelengkan kepalanya. "Hentikan, Kak Rona! Jangan sentuh dia lagi, aku mohon!" jerit Loviana histeris, menyentakkan kedua tangannya yang terikat kuat ke belakang tiang beton hingga tali tambang semakin mengoyak kulit pergelangan tangannya."Itu tidak mungkin Lovi, karena aku menginginkannya!"Rona menulikan telinganya dari ratapan itu, dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menyiksa batin Loviana, Rona kembali menundukkan wajah cantiknya yang dipenuhi senyum kemenangan. Tanpa ragu sedikitpun, ia kembali mendaratkan bibirnya secara paksa tepat di atas bibir Nicko yang pecah berdarah. Rona melumat dan merebut kehangatan bibir pria itu untuk kedua kalinya, memamerkan keintiman haram tersebut di hadapan mata Loviana yang membelalak lebar dalam kehancuran jiwa yang mendalam."MMMPH!"Tiba-tiba, sebuah rintihan parau bergetar dari dalam dada Nicko yang telanjang. Penyiksaan fisik yang berat, lelehan darah, serta sentuhan memuakkan itu akhirnya memicu sisa-sisa kesadarannya
Read more