Sari masih terpaku di depan layar monitornya yang sepenuhnya sudah gelap. Pikirannya tidak di sana. Kata-kata Nadira dan antek-anteknya di toilet bebwrapa waktu lalu terus terngiang seperti kaset rusak. "Wanita rendahan, parasit, nggak punya harga diri."Sari tahu Btari kuat, tapi mendengar sahabatnya dihina sebegitu kejamnya membuat dadanya sesak. Ia bimbang, antara menceritakan atau memilih diam. Jika ia bercerita, Btari pasti akan meledak atau lebih buruknya lagi akan terjadi keributan dan pastinya, hatinya hancur. Jika tidak cerita, ia merasa mengkhianati persahabatan mereka.Tiba-tiba, sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunannya."Nggak pulang? Ayo pulang," suara Btari terdengar renyah, meski ada gurat kelelahan di matanya. Ia sudah berdiri di samping meja Sari dengan tas kantor yang tersampir rapi di bahunya.Sari tersentak, mengerjap-erjap bingung. "Emang udah jam berapa?"Btari menggeleng-gelengkan kepala, lalu melirik jam tangan peraknya. "Astaga, udah jam lima lewat lima
اقرأ المزيد