Malam kian larut, namun atmosfer di pendopo dalam keluarga Bimantara justru semakin mencekam, terasa berat oleh aroma kemenyan dan dupa yang membumbung tipis. Di tengah ruangan, duduklah Mbah Wiryo—sang penasihat spiritual yang begitu misterius dan disegani—mengenakan pakaian beskap hitam lengkap dengan blangkon khas Yogyakarta. Di sekelilingnya, Raden Mahendra, Ratih Sekar, dan Eyang Putri Siti Aminah menyimak dengan takzim, didampingi oleh beberapa tetua keluarga lainnya.Ararya melangkah masuk dengan gagah, mengenakan kemeja batik gelap, sementara tangan kekarnya menggenggam erat jemari Btari yang malam ini tampil anggun dengan kebaya kutubaru. Pria tiran itu menuntun istrinya untuk duduk bersila di atas karpet beludru, tepat di hadapan Mbah Wiryo dan para sesepuh."Bagaimana, Mbah Wiryo? Mengenai penyelarasan weton anak-anak kita ini untuk masa depan Bimantara Group?" buka Raden Mahendra dengan suara berat, memecah keheningan yang kaku.Mbah Wiryo tidak langsung menjawab. Pria sep
اقرأ المزيد