Di dalam pantulan cermin yang temaram, sepasang netra mereka saling mengunci. Sepasang mata sehitam jelaga milik Ararya berkilat penuh gairah yang menggelap, sementara manik mata Btari bergetar hebat di antara kabut kepasrahan dan sensasi asing yang mulai menguasai akal sehatnya.Ararya tidak memberi celah sedikit pun bagi Btari untuk menarik napas. Dari arah belakang, kedua tangan kekar pria itu merayap naik, mencengkeram dan meremas dengan penuh kuasanya dua gundukan indah milik istrinya yang kini hanya terbalut pakaian dalam tipis. Tekanan jari-jari besarnya begitu dominan, mengklaim setiap jengkal keindahan tubuh Btari tanpa ragu."Lihat bagaimana tanganku memperlakukanmu di depan cermin ini, Btari... Kamu sepenuhnya milikku malam ini," bisik Ararya, suaranya yang bariton terdengar begitu rendah, serak, dan sarat akan dominasi.Sembari tangannya terus memonopoli dada istrinya, bibir dan lidah panas Ararya tidak tinggal diam. Ia menurunkan kepalanya, kembali memberi jejak-jejak bas
اقرأ المزيد