Ruang kerja CEO itu mendadak sunyi, seolah oksigen di dalamnya tersedot habis oleh aura Ararya yang kini tidak lagi dingin, melainkan panas dan menghancurkan. Nadira berdiri di tengah ruangan, tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak menyangka tindakannya di kantin akan membawanya berhadapan langsung dengan "singa" yang selama ini ia puja—dan kini, ia menjadi sasaran amarahnya.Bima berdiri di dekat pintu, melipat tangan di depan dada dengan pandangan menghina ke arah Nadira. Di belakang meja kerjanya yang luas, Ararya tidak duduk. Ia berdiri tegak, tangannya terkunci di belakang punggung, menatap Nadira dengan tatapan yang bisa membunuh siapa pun dalam hitungan detik."Kau tahu apa yang paling aku benci, Nadira?" suara Ararya memecah keheningan, rendah, tenang, namun mematikan.Nadira tidak berani mengangkat kepala. "Sa-saya minta maaf, Pak Ararya. Saya... saya hanya...""Kau tidak perlu menjelaskan apa pun," Ararya memotong, langkahnya maju perlahan, sepatu pantofelnya menimbulkan suara ket
Read more