Melihat Rumi yang benar-benar berniat menghubungi kekasih gelapnya, Nadia bergerak cepat menahan pergelangan tangan sang suami. “Aku bisa sendiri, Mas. Nggak perlu kamu yang lakuin buat aku,” ucap Nadia tegas. Rumi tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jemari Nadia menyentuh kulitnya, lalu berbisik pelan, “Aku cuma mau kamu bahagia, Nad. Walaupun aku tahu … bukan aku orang itu.” Nadia menarik kembali tangannya, lalu menyunggingkan seulas senyum tipis yang terasa begitu asing dan berjarak. “Aku bisa bahagia dengan cara aku sendiri, Mas.” Rumi tersenyum tipis mendengar jawaban Nadia yang telak membatasi diri. “Kalau gitu, makan dulu,” ucap Rumi pelan, nadanya melembut namun tetap terasa mengikat. Nadia tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap piring bubur di depannya dengan enggan. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa begitu menyesakkan di antara mereka berdua. Akhirnya, dengan terpaksa Nadia menyendok sedikit bubur hangat yang disediakan oleh pihak rumah sa
Read more