“Bagas... di sini?” tanya ibunya pelan, ada nada ketidakpastian dalam suaranya. “Um, iya, dia di sini. Di ruang TV. Jadi, aku panggil Mas Rumi dulu ya, Ma. Ada kakaknya,” ucap Nadia dengan senyum tenang yang ia paksakan, lalu melangkah mantap menuju kamar Rumi. “Oh... tapi kok bisa mereka berdua?” gumam ibunya pelan, dahi beliau berkerut samar. Namun, saat mendengar celoteh lucu dari Lily yang tampak gelisah ingin pindah tempat, sang ibu seketika beralih perhatian. “Oh, iya, iya, Ndut... yuk, kita ke Papa kamu, ya...” ucap Ibu Nadia sambil tertawa kecil, mengabaikan kecurigaannya sejenak dan mengecup pipi cucunya itu dengan penuh kasih. Sementara itu, Nadia sudah tiba di depan pintu kamar Rumi. “Mas? Dikunci nggak?” tanyanya dari balik pintu. Mendengar suara sang istri, Rumi menoleh sambil menurunkan kacamata bacanya ke ujung hidung. “Nggak, Yang!” sahutnya. Nadia pun masuk ke dalam kamar. Suasana di dal
Read more