“Mama Ratu nggak bisa ke sini karena pasti lagi jagain Papa di rumah, Ma. Papa juga butuh orang yang temenin dia. Apalagi, kan … kebutuhan Papa beda,” ucap Nadia lembut sembari tersenyum, menatap jemarinya sendiri saat teringat pada sosok ayah mertuanya, Papa Roman. Mendengar penjelasan logis itu, semua orang di dalam ruangan mengangguk paham. Di sudut lain, Bagas dan Rumi sempat saling lempar pandang selama sepersekian detik, sebelum akhirnya kompak berpaling ke arah lain dengan guratan ketegangan yang tertahan. “Oh iya, ya. Apalagi Pak Roman memang nggak bisa sendirian kalau aktivitas, semuanya harus dibantu,” sahut ayah Nadia, memaklumi kondisi besannya. “Tapi paling nggak, harusnya bisa ke sini sebentar. Kan ada Yuyun sama Wati yang selalu siap jaga Papa Roman di rumah. Iya, kan, Bagas?” timpal ibu Nadia, masih menyayangkan ketidakhadiran Mama Ratu. “Um … iya, Ma,” sahut Bagas singkat. Ia mencoba mengulas senyum tipis seraya mengangguk formal, lalu mengalihkan perhatiannya
Read more