“Nad, emang nggak perlu. Aku kan masih hidup, Sayang,” ucap Rumi pada Nadia, suaranya terdengar dingin menanggapi tawaran kesiapan dua puluh empat jam dari kakaknya. “Ya, masih hidup,” sahut Bagas membeo dengan nada menyindir yang amat halus. “Kenapa jadi kayak gini, sih, kalian kan…” ucap Nadia tertahan. Matanya bergantian menatap kedua pria yang tampak siap saling telan itu. Rumi mengalihkan pandangannya pada sang istri, mencoba melembutkan suaranya. “Sayang... kamu tidur duluan, istirahat. Aku nggak mau kandungan kamu terganggu gara-gara nahan ketawa dengerin jokes receh kita berdua.” Mendengar kalimat Rumi, Nadia seketika terdiam. Sepasang matanya langsung melirik cemas ke arah Bagas. Dalam hatinya, Nadia dirundung kepanikan luar biasa karena mengira Bagas belum mengetahui perihal kehamilannya itu. Namun, di luar dugaan Nadia, Bagas yang sebenarnya sudah mendengar kabar tersebut dari Rumi kemarin, justru tampak begitu tenang. “Oh, ya. What?” ucap Bagas seolah-olah terkej
Read more