“Kayaknya kita semua butuh istirahat dulu,” ucap Rumi pelan sembari mengusap lembut punggung tangan Nadia, mencoba menginterupsi situasi yang kian memanas. “Um … iya, Mas. Minum dulu aja, ya, Mas Bagas. Um … kopi masih ada, kan, Mas Rumi? Papa mau kopi atau teh? Mama? Vega?” tanya Nadia menawarkan pada mereka semua, dengan ekor mata yang terutama melirik ke arah Bagas. Namun, mereka semua masih bergeming di posisi masing-masing, seakan tengah menahan gejolak emosi yang meletup-letup di dalam dada. “Mumpung Lily masih bobok …” sambung Nadia lagi, berusaha mencairkan keheningan sembari mulai menuangkan kopi untuk Bagas, menyeduh teh untuk ayah dan ibu Vega, serta menyiapkan segelas jus buah untuk Vega. “Mas Rumi, kopi kamu mau ditambah lagi, kan?” tanya Nadia setengah berteriak dari arah meja makan. “Ah, iya, Nad. Tambah sedikit, deh. Tadi sambil mengasuh si gembul jadinya hampir kelupaan ngopi,” sahut Rumi dengan senyuman yang dipaksakan mengembang demi mendukung usaha sang i
Read more