“Boleh dong...” ucap Nadia sambil tertawa kecil. Ia membalas pelukan Rumi dengan hangat, seolah ingin menguatkan laki-laki yang pernah menjadi suaminya itu. “Semangat ya, Mas,” lanjutnya pelan sambil menepuk lembut punggung Rumi. “Iya, Nad...” sahut Rumi lirih. Pelukannya semakin erat sebelum akhirnya ia melepaskannya perlahan. Tak ada lagi percakapan malam itu. Keduanya memilih memejamkan mata dengan pikiran masing-masing, membiarkan malam membawa mereka pada keheningan yang terasa jauh lebih menenangkan dibanding hari-hari sebelumnya. Sementara itu, di perjalanan pulang... “Pa, besok aku mau ke kantor polisi,” ucap Bagas sambil tetap fokus mengemudikan mobil di jalanan yang mulai lengang. “Ya, Bagas.” Roman mengangguk pelan dari kursi penumpang. “Kamu jangan lupa koordinasi sama Rumi dan Nadia. Terutama Nadia, karena dia yang bisa membuat keputusan hukuman Mama Ratu jadi lebih ringan,” pesannya dengan nada tenang. “Iya, Pa,” sahut Bagas singkat sambil mengangguk. S
Read more