“Hati-hati ya, Pa. Mama nggak bisa ikut. Vega masih belum bisa ditinggal sendiri,” ucap Ibu Vega siang itu sambil membantu merapikan kerah kemeja suaminya. “Iya, Ma.” Ayah Vega mengangguk pelan. Ia meraih dompet dan kunci mobil di atas meja. “Nanti... apa pun hasilnya, kita harus legawa.” “Iya, Pa...” sahut istrinya lirih. “Papa, jangan, Pa...” cegah Vega dari atas ranjang. Wajahnya tampak panik. Ayah Vega menoleh. “Vega...” ucapnya pelan. “Papa harus tahu kebenarannya.” Ia mengembuskan napas panjang. “Lagian, lain kali jangan asal ngomong sama ipar kamu.” “Pa, kenyataannya dia memang pelakor!” bantah Vega dengan suara meninggi. “Dia dari dulu nggak suka sama aku. Papa boleh tanya sama Mama Ratu, deh!” tambahnya, berusaha meyakinkan ayahnya. Ayah Vega menatap putrinya cukup lama. “Papa nggak peduli siapa yang kamu bela atau siapa yang kamu benci.” Suaranya terdengar tenang, tetapi tegas. “Papa cuma mau dengar kebenaran dari semua pihak.” Ia menggenggam erat kun
اقرأ المزيد