“Iya, Nad. Papa ke sana dulu ya. Ma,” ucap Ayah Vega yang segera pamit pada istrinya. “Iya, Pa. Mama tunggu di sini,” jawab Ibu Vega dengan tatapan yang menyiratkan kecemasan sekaligus harap. Ayah Vega meninggalkan kamar itu dengan langkah cepat, tangannya sesekali meremas ponsel di saku celananya, menahan gejolak amarah dan kebingungan yang bercampur aduk. Tak butuh waktu lama, ia tiba di depan kamar Rumi yang letaknya tidak jauh dari kamar inap putrinya. “Permisi...” ucapnya dengan nada yang diusahakan tetap tenang saat mengetuk pintu. Tak lama kemudian, Bagas melangkah menuju pintu dan membukanya. “Eh? Pa?” Bagas sedikit kaget, namun ia segera tersenyum menyambut ayah mertuanya itu. “Bagas... Maaf nih, Papa ganggu. Loh, ada Papa kamu juga di sini?” tanya ayah mertuanya dengan nada yang tetap ramah, meski rahangnya mengeras karena menyimpan sesuatu. “Kebetulan banget, Pa, ada kok. Masuk dulu, Pa,” ucap Bagas seraya membukakan pintu lebih lebar dan mempersilakan ayah mertu
Read more