“Lagian masih banyak waktu kamu buat liatin aku. Masih dua bulan lagi, kok,” ucap Nadia sambil menatap lembut wajah Rumi pagi itu, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah sendu. Rumi tersenyum tipis, lalu menarik Nadia kedalam pelukannya, mendekap wanita itu dengan erat. “Nad... Pasti berat buat kamu terima permintaan aku supaya bisa dua bulan sama kamu,” ucap Rumi dengan suara bergetar. “Iya. Tapi nggak apa-apa kok. Aku nggak keberatan lagi,” ucap Nadia tulus sambil menggeleng pelan di dalam pelukan Rumi. “Kamu baik banget. Aku udah sakitin kamu berkali-kali, bukan sebentar, tapi dalam waktu yang lama. Aku cuekin kamu, sampai...” Rumi menjeda kalimatnya, dadanya tiba-tiba terasa sesak oleh timbunan penyesalan yang teramat dalam. “Sampai aku sering nyakitin kamu sama omongan aku yang nggak mencerminkan aku laki-laki waras.” “Aku udah maafin semuanya, Mas...” sahut Nadia pelan, mengusap punggung suaminya untuk menenangkan. “Aku tahu,” ucap Rumi lirih. “Tapi... aku
اقرأ المزيد