Malam itu, Bagas duduk di ruang makan, menikmati setiap suapan masakan Nadia dengan lahap. Suasana rumah yang sepi membuatnya merasa bebas. “Masakannya aja enak, apalagi orangnya ...,” gumamnya nakal sambil tertawa kecil, menikmati makan malamnya yang terlambat tepat di jam sepuluh malam itu. Tak lama, Nadia mengintip dari balik pilar lantai dua. Begitu memastikan keadaan aman, ia segera turun dan berlari kecil menuju ruang makan malam itu. “Nggak gratis,” bisik Nadia tepat di dekat telinga Bagas. Sebelum pria itu sempat menoleh, Nadia sudah mencuri sebuah ciuman di pipi kakak iparnya yang tampan itu. Bagas terkekeh, tetap tenang sambil terus mengunyah makanannya. “Bayar pakai apa?” tanyanya santai. “Apa, ya? Um ... aku mau ...,” ucap Nadia sambil tampak berpikir, jemarinya memainkan kerah baju Bagas dari belakang. “Mau dihamili? Oke ...,” sahut Bagas enteng, namun tatapannya terlihat serius. “Ah ... Mas ...!” Nadia bergidik gemas mendengar jawaban itu. Ia segera melirik k
Read more