“Mas, aku ke kamar dulu. Kepala aku pusing,” ucap Nadia pelan, mencoba mencari alasan untuk segera menjauh dari suasana yang menyesakkan itu. “Bareng aku, Sayang. Ayo, aku antar,” sahut Rumi sigap. Ia menoleh ke arah sang ayah yang masih fokus ke layar TV. “Papa, aku ke atas dulu ya, anterin Nadia istirahat.” Rumi segera menggandeng tangan Nadia dengan erat. Nadia tampak enggan, tubuhnya terasa kaku, namun ia terpaksa mengikuti langkah suaminya itu. Hatinya semakin terasa sakit; ia terjepit di antara Rumi yang tiba-tiba kembali memujanya dan Bagas yang kini telah memenuhi seluruh rongga pikirannya dengan obsesi yang berbahaya. Saat keduanya mulai menaiki anak tangga dan sampai di lorong lantai atas, mereka berpapasan dengan Bagas. Pria itu tampak sudah siap dengan tas gym di punggungnya, langkah kakinya mantap, dan tatapan matanya sedingin es saat menghujam wajah Rumi. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Bagas. Ia bahkan tidak melirik Rumi, apalagi menyapa Nadia. Bagas m
Read more