“Apa jangan-jangan udah ada di antara mereka yang berani ngadu macam-macam ke Mama, ya?” tanya Nadia pelan, kekhawatiran tiba-tiba merayapi benaknya saat mengingat gosip yang sempat didengar Wati tadi. “Ngadu apa, Sayang? Siapa?” tanya Bagas balik, keningnya berkerut heran karena belum tahu soal ulah para pelayan di dapur. “Nanti aja aku ceritain di telepon, Mas. Sekarang kamu buruan antar Papa pulang dulu, ya. Kasihan Papa nanti kelamaan nunggu, kemalaman,” urai Nadia cepat, tak ingin mengambil risiko terlalu lama mengobrol di ambang pintu yang terbuka. “Oke. Aku balik dulu, ya. Titip Lily, Sayang. Besok pagi aku jemput dia lagi ke sini. Sorry... aku nggak bisa peluk kamu sekarang,” bisik Bagas lembut dari jarak dua meter, sengaja menjaga jarak aman seakan bersiap siaga mengantisipasi jika sewaktu-waktu ada orang yang kembali mengawasi mereka dari luar. Nadia mengangguk kecil, memahami situasi yang serba riskan itu. Tak lama kemudian, Bagas melangkah mantap keluar dari kama
더 보기