“Kamu ragu lagi, Nad?” tanya Bagas lembut, melirik sekilas ke arah Nadia saat mobil mereka berhenti di lampu merah. Nadia menunduk, jemarinya semakin erat meremas ujung bajunya. “Perut aku pasti makin hari bakal makin kelihatan gede, Mas. Dan aku nggak mau membohongi keadaan dengan bilang kalau ini anak almarhum Mas Rumi. Kita berdua, dan juga almarhum Mas Rumi... kita semua tahu yang sebenarnya, bahwa ini anak kamu. Tapi masalahnya, keluarga kita sama sekali nggak tahu itu.” Bagas menghela napas pelan. Begitu lampu berubah hijau, ia kembali melajukan kendaraannya dengan tenang namun tegas. Tangannya terulur menggenggam jemari Nadia, menyalurkan kehangatan. “Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah berniat buat bohong, Nadia. Anak ini adalah anak aku, darah daging aku, bukan anak Rumi. Karena memang benih ini berasal dari aku. Dan kalaupun nantinya Mama sama Papa kamu marah, atau seluruh dunia membenci kita... aku benar-benar nggak peduli. Aku akan tetap nikahi kamu, Sayang,” ucap
더 보기