“Sayang, kamu benar-benar baik-baik aja, kan?” tanya Bagas pelan, nada suaranya berubah menjadi lebih serius dan penuh kekhawatiran dari ujung sambungan. “Aku baik-baik aja kok, Mas... Cuma akhir-akhir ini, semenjak hamil, aku jadi gampang overthinking dan melow sendiri,” ucap Nadia beralasan, berusaha menetralkan getar di suaranya agar Bagas tidak curiga. “Ya udah, kalau gitu aku mau siap-siap turun ke lapangan dulu, Sayang. Yang lain udah ngajak dari tadi manggil melulu,” balas Bagas dengan senyuman. “Iya, Mas. Nanti kabari atau telepon aku ya kalau mau jemput,” pinta Nadia. “Siap, Sayang. Semangat ya makannya. Bye,” sahut Bagas ringan. “Iya, Sayang. Semangat main futsalnya, jangan genit-genit ya,” goda Nadia pelan. Hahaha... Bye, Sayang. Makan yang banyak ya,” tawa renyah Bagas mengakhiri kalimatnya. “Iya, Sayang... Bye...” Panggilan telepon itu pun terputus. Nadia terdiam sejenak, menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya dengan pikiran yang terus berkecamuk. Tarikan n
Read more