Menjelang pukul tujuh malam, Nadia sudah selesai dengan persiapannya. Ia mengenakan pakaian kasual yang membuatnya tampak begitu muda, bak anak remaja. Di tangannya, ia menenteng sebuah tas Hermes berwarna cokelat yang berisi ponsel, dompet, parfum, serta map coklat berisi dokumen penting hasil tes DNA. “Udah siap, Sayang?” tanya Bagas yang baru saja keluar dari kamar mandi, tersenyum hangat melihat penampilan calon istrinya yang berdiri di hadapannya. Mata Bagas berbinar memandangi Nadia. “Cantik banget, sih?” puji Bagas tulus, lalu segera beranjak dari sisi ranjang sambil mengenakan kaus oblong santainya. Nadia memicingkan mata sambil mengerucutkan bibirnya pura-pura kesal. “Jadi maksud kamu, kemarin-kemarin aku jelek gitu?” tanyanya cemberut. Bagas terkekeh pelan, merentangkan tangan untuk memeluk Nadia erat sebelum mendaratkan kecupan lembut di bibirnya. “Cantik terus kok, setiap hari... Nggak ada matinya,” goda Bagas lembut. Nadia tersenyum manis, lalu menepuk pelan perutnya
Leer más