Nadia menatap Bagas lekat, mencoba menelan mentah-mentah keterkejutan dan rasa panik yang kini menghimpit dadanya. Bagas jauh lebih jeli dari yang ia duga. “Jawab, Nad...” ucap Bagas pelan, menuntut pengakuan yang keluar langsung dari bibir istrinya. Nadia menelan ludahnya yang terasa begitu keluh. Tubuhnya bergetar hebat di atas pangkuan Bagas, menyadari bahwa mengelak pun sudah tidak ada gunanya lagi. Dengan suara parau, ia berbisik lemah, “... Iya.” Satu patah kata itu meluncur, membuat Bagas seketika terdiam kaku. Pria itu menatap Nadia lekat-lekat, seolah tengah mencerna kejujuran yang baru saja diucapkannya. “Nggak nyangka kamu gini...” ucap Bagas pelan, suaranya sarat akan kekecewaan yang teramat dalam, mencierkan suasana kamar yang mendadak terasa begitu dingin. Nadia langsung menggeleng panik, jemarinya mencengkeram erat lengan baju suaminya. “Tapi aku nggak selingkuh, Mas! Sumpah, demi apapun...” Bagas menatap manik mata wanita yang sangat dicintainya itu dengan sorot
Leer más