“Terserah Papa. Yang jelas, apapun alasan Bagas sampai tega selingkuh di belakang Rumi, Mama nggak peduli. Mama maunya Nadia sama Marsel,” ucap ibu Nadia dengan nada ketus, lalu melipat kedua tangan di dada dan memejamkan mata rapat-rapat, seolah menutup diri dari segala perdebatan. Ayah Nadia menghela napas berat, menatap nanar wanita yang telah mendampinginya puluhan tahun itu. “Jangan kayak gitu, Ma... Nggak baik. Apa salahnya dengerin penjelasan Bagas nanti? Ya kan...?” bujuknya lembut sambil mengusap jemari istrinya yang terbebas dari jarum, lalu melirik sekilas ke arah botol infus yang cairan beningnya sudah hampir habis di pergelangan tangan wanita itu. “Terserah deh,” cetus ibu Nadia singkat, membuang muka dengan nada malas. “Papa panggil suster dulu, cairan infus Mama udah mau habis,” pamit ayah Nadia pelan, bangkit dari kursi di sisi ranjang rumah sakit itu. Beberapa lama kemudian, suasana pagi yang dingin menyambut kedatangan Nadia dan Bagas di halaman kediaman kelu
Leer más