“Loh, Bagas! Nanti dulu, duduk dulu... Nadia... Ayo. Kita belum selesai. Semua masih jadi pertanyaan di otak Papa dan Mama, kamu juga harus tahu yang sebenarnya, mau itu buruk ataupun baik. Kita cari solusi sama-sama,” ucap Ayah Nadia menahan dengan nada cemas. “Cukup, Pa. Mama dari tadi kayaknya nyerang aku sama Mas Bagas, dan tujuan Mama kayaknya cuma mau hina Mas Bagas sama aku,” ucap Nadia dengan napas memburu dan air mata yang hampir tumpah. “Nggak gitu, Nad... Ayo duduk dulu...” bujuk Ayah Nadia, mencoba meraih tangan putrinya. “Apalagi yang mau dijelasin? Udah jelas kan? Kalian aja sekarang udah kayak suami istri, kumpul kebo. Bikin malu!” ucap Ibu Nadia menyela tajam tanpa ampun, kembali menatap keduanya dengan jijik. “Mama, jangan kayak gitu. Belum ada yang dibuka, Mama sudah bikin rusuh begini. Ayolah, sabar dulu, tahan sedikit. Duduk, Bagas... Ayo... Papa kamu juga mau kesini dan nggak mungkin dia kesini tapi kalian malah pulang,” ucap Ayah Nadia dengan nada menenan
Read more