“Tapi... kayaknya kita tetap harus buat surat perjanjian tertulis, Om, Tante,” ucap Bagas dengan senyuman penuh perhitungan, memecah sejenak kelegaan yang sempat tercipta di antara kedua mantan mertuanya. Ayah Vega mengerjap, menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut. “Maksudnya, Bagas?” “Maaf... tapi saya tahu betul watak Vega. Dia itu licik,” ujar Bagas tanpa ragu, suaranya terdengar dingin namun tetap terkontrol. “Saya nggak mau... sampai dia berani macam-macam atau mencari celah buat ngerusak perusahaan Papa saya. Walaupun posisinya nanti cuma staf, tapi... orang licik ya tetap aja licik. Jangan tersinggung ya, Om, Tante. Saya cuma berpendapat dan bicara sejujurnya karena saya yang tahu dan paling lama hidup bareng Vega.” Mendengar ucapan Bagas yang terlampau jujur itu, suasana ruang tamu kembali menegang. Ibu Vega sempat tertegun dengan mata membelalak, merasa tidak terima putrinya dikatai secara terang-terangan di hadapan mereka. Namun, Ayah Vega justru terdiam, m
Leer más