Nadia memandangi lekat-lekat gurat wajah tampan di hadapannya itu. Di tengah rasa bersalah dan ketakutan yang mendera, ia mendambakan ketenangan. “Peluk aku, Mas,” pinta Nadia lirih, menatap Bagas dengan mata yang berkaca-kaca. Tanpa sepatah kata pun, Bagas langsung menarik tubuh Nadia ke dalam rengkuhannya. Ia mendekap wanita itu dengan sangat erat, seolah mencoba menyerap semua beban dan ketakutan yang sedang merayapi tubuh ringkih di pelukannya. “Jangan tinggalin aku, Mas ...” bisik Nadia pelan di dada Bagas. Bagas mengangguk pelan, membenamkan dagunya di puncak kepala Nadia. Namun, perlahan ia melonggarkan sedikit dekapannya, lalu sedikit menunduk demi bisa menatap langsung sepasang manik mata wanita itu. Kegetiran yang sejak tadi ditahannya kini menyeruak ke permukaan. “Aku nggak mungkin ninggalin kamu, Nad. Tapi mungkin ...” Kalimat Bagas menggantung sesaat. Tangannya terangkat, mengusap lembut pipi Nadia dengan ibu jarinya. “Kamu yang bakalan ninggalin aku, Sayang.”
Read more