“Aku istri Rumi, menantu di rumah itu, dan aku adik ipar Mas Bagas,” ucap Nadia tenang. Ia menegakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam sepasang mata ibu mertuanya tanpa ada lagi rasa takut. Ratu mendengus sinis, melipat kedua lengan di dada. “Kamu masih berpikir kalau kamu itu bagian dari keluarga ini? Mama nggak yakin. Kalau sampai Rumi tahu kelakuan murahan kamu tadi, kamu pasti udah dicerai sama dia malam ini juga! Lihat aja nanti. Begitu Rumi siuman, Mama sendiri yang bakal kasih tahu ke dia kayak apa busuknya kamu di belakang dia.” Mendengar ancaman itu, Nadia tidak gemetar. Ia justru menyunggingkan senyum tipis, lalu tertawa kecil sembari mengusap sisa air mata di pipinya. “Mama ... aku cuma takut Mama bakal kecewa dan menjilat ludah sendiri sama semua omongan Mama malam ini.” Dahi Ratu mengkerut dalam, merasa tersinggung. “Apa maksud kamu?!” “Mas Rumi nggak bakalan pernah mau pisah dari aku,” ucap Nadia penuh penekanan, nadanya begitu mutlak. “Halah! Percaya diri ban
Read more