Share

Bab 5

Penulis: Gilva Afnida
last update Tanggal publikasi: 2026-05-02 22:11:07

Setelah pertemuannya dengan Kinara, Zahwa pulang dan kembali masuk kamar.

Ucapan Kinara di kafe tadi terus terngiang-ngiang dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang.

"...Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"

Zahwa tak tahu akan kemana arah pernikahannya nanti. Suatu saat, Ia bisa saja didepak pergi oleh Devan karena cintanya pada Valerie.

Sebelum itu terjadi, ia harus menyediakan payung.

Zahwa segera membuka laptop untuk memeriksa email, berharap mendapat satu pekerjaan yang sesuai karena ia mulai memikirkan masa depannya.

Zahwa hanya ingin mempersiapkan dirinya, jika suatu saat nanti Devan tidak lagi membutuhkannya, ia sudah punya sebuah tumpuan.

Saat memeriksa email satu persatu, tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di sudut layar laptopnya.

Senyum Zahwa merekah begitu mendapat sebuah balasan dari salah satu firma konsultan bisnis internasional yang berbasis di Singapura bernama Apex Horizon. Perusahaan itu sedang mencari asisten riset pasar secara daring.

[... kami ingin mengundang Anda untuk mengikuti tes simulasi proyek besok pagi. Tes ini akan menentukan apakah Anda bisa bergabung dengan tim riset kami untuk proyek ekspansi retail di Asia Tenggara...]

Mata Zahwa berbinar. Apex Horizon bukan sekedar perusahaan konsultan bisnis biasa. Jika sebuah brand besar hampir mati di pasaran, Apex Horizon adalah tempat yang mereka tuju untuk membalikkan keadaan.

Tentu saja Zahwa tidak ingin melewatkan kesempatan. Ia segera mengetik balasan, mengonfirmasi kesediaannya untuk mengikuti tes besok pagi.

***

Keesokan harinya, Zahwa mempersiapkan diri dengan semangat. Ia mengenakan baju kerja simple dengan pashmina berwarna nude.

Tes tahap pertama ini dilakukan secara langsung di kantor perwakilan mereka yang berada di pusat kota, Zahwa harus berangkat pagi-pagi sekali.

Zahwa memacu motor matic-nya membelah jalanan kota yang mulai padat.

Pikirannya fokus pada materi manajemen risiko dan analisis pasar yang sempat ia pelajari kembali semalam.

Sesampainya di gedung perkantoran yang menjulang tinggi, Zahwa menarik napas panjang di depan lobi.

Ia menatap pantulan dirinya di dinding kaca.

"Aku pasti bisa," bisiknya meyakinkan diri sendiri.

Ia melangkah masuk menuju meja resepsionis untuk melapor. Petugas mengarahkannya ke lantai dua belas, tempat tes simulasi proyek akan dilaksanakan.

Namun sesampainya di sana, langkahnya terhenti di depan meja registrasi lantai dua belas.

Seorang wanita dengan riasan tebal dan seragam formal menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan skeptis.

Pandangannya tertuju lama pada kerudung pashmina yang dikenakan Zahwa dan tas bahu yang nampak sudah usang.

"Maaf, Mbak. Sepertinya Mbak salah lantai,"

Resepsionis itu berkata tanpa menanyakan keperluan Zahwa lebih dulu.

"Lantai ini khusus untuk tes manajer proyek dan konsultan. Kalau mau cari bagian kebersihan atau pengantaran, lewat lift barang di belakang."

Dada Zahwa berdenyut, tapi ia berusaha tetap tenang. "Saya ke sini untuk memenuhi undangan tes simulasi proyek dari Apex Horizon. Nama saya Zahwa Khairunnisa."

Resepsionis itu mendengus, lalu tertawa kecil sambil melirik rekannya. "Mbak tahu nggak kalau ini firma internasional? Pesertanya rata-rata lulusan luar negeri atau punya pengalaman di perusahaan top tier. Jangan sembarangan coba-coba."

"Saya punya undangannya kok," tegas Zahwa sambil merogoh ponsel untuk menunjukkan email resminya.

"Mungkin Mbak salah baca atau ini hanya kesalahan sistem. Sebaiknya Mbak pergi sekarang sebelum saya memanggil tim keamanan karena mengganggu ketertiban," timpal seorang pria yang baru saja keluar dari ruangan, ikut memandang remeh penampilan Zahwa.

Zahwa kebingungan.

Di tengah perdebatan itu, pintu kaca di belakang meja resepsionis terbuka. Seorang pria dengan setelan jas hitam melangkah keluar sambil berbincang di telepon.

Begitu ia menutup teleponnya, matanya tertuju pada keributan di depan meja.

Langkah pria itu mendadak terhenti, matanya membelalak saat mengenali sosok wanita yang sedang dikerubungi itu.

"Zahwa?"

Zahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.

Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang... kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie."

Resepsionis tadi langsung menunduk hormat pada Alex. "Maaf Pak Alex, wanita ini mengaku sebagai peserta tes simulasi proyek hari ini. Saya sudah mencoba mengusirnya karena sepertinya dia salah alamat."

Alex terdiam sejenak, menatap Zahwa dengan pandangan menyelidik. Ia adalah salah satu konsultan mitra di Apex, dan ia tahu betul betapa ketatnya seleksi yang dilakukan.

"Dia? Peserta tes?" Alex tertawa hambar lalu menatap Zahwa dengan tatapan penuh cibiran.

"Zahwa, kamu ini cuman lulusan kampus lokal dan selama ini hanya jadi ibu rumah tangga yang bisanya minta uang pada sua... eh, maksudku Devan. Kamu sadar nggak perusahaan apa ini?"

Zahwa menegakkan punggungnya. "Aku di sini karena kapasitas edukasiku, Alex. Apex Horizon sendiri yang mengundangku setelah melihat portofolioku. Kalau kamu merasa aku nggak layak, silakan biar hasil tes yang membuktikannya, bukan penilaian subjektifmu."

Alex tertegun. Ia belum pernah melihat Zahwa bicara seberani ini. Di matanya, Zahwa benar-benar seorang pecundang yang hanya bisa menundukkan kepalanya di depan Devan.

"Menarik," desisnya, menyeringai sinis. "Baiklah. Kamu boleh masuk. Aku ingin lihat sejauh mana peruntunganmu berjalan."

Kemudian Alex berbisik di dekat Zahwa.

"Tapi jangan harap aku akan membantumu hanya karena kamu istri sahabatku. Justru aku akan memastikan penilaian untukmu jauh lebih ketat dari yang lain.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Semicolon
Jangan remehkan Zahwa dulu!
goodnovel comment avatar
Ting Ting
Akhirnya Zahwa dapat kesempatan!
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
gimana si devan akan tertarik. klu utk menjaga penampilan mengikuti tes aja kamu g bisa menempatkan diri
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Tamat

    ​​Zahwa terperanjat pelan. Rona merah seketika merayap cepat memenuhi kedua pipinya hingga menjalar ke ujung telinga. Desir hangat dan perasaan membuncah menghantam dadanya, merasa dimanjakan oleh kecemburuan manis dari suaminya.​"Mas Devan... apaan sih, malu dilihat orang," bisik Zahwa seraya menepuk pelan dada Devan.​Devan terkekeh rendah. Ia mendaratkan satu kecupan singkat di kening Zahwa sebelum akhirnya merangkul bahu istrinya.​"Yuk... kita makan dulu, takutnya kamu nanti keburu pingsan karena belum makan apa-apa sejak tadi pagi.""Mas Devan... ih!"Devan terkekeh pelan, lalu mengajak Zahwa menuju ke meja prasmanan.***Empat tahun kemudian.Pagi itu berjalan seperti biasanya. Bedanya, Zahwa kini hidupnya terasa makin lengkap dan rumahnya terdengar makin semarak dengan adanya derap langkah kaki kecil yang kini meramaikan setiap sudut rumah.​Di ruang tengah, Zayyan yang kini sudah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia empat tahun tampak begitu aktif. Wajahnya makin tampan, m

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 325

    Pagi hari di kediaman, tepatnya di hari ketujuh Zayyan lahir, Devan dan Zahwa melaksanakan syukuran. Halaman rumah telah dihiasi dekorasi bernuansa pastel dan putih.​Seluruh keluarga besar dan tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ruangan. Irfan dan Debby menyambut para tamu dengan ramah, tak henti-hentinya menerima ucapan selamat atas kelahiran cucu pertama mereka.​Lia hadir bersama Lusi sedang di samping mereka, Hilda menggandeng tangan Zio yang begitu aktif dan menggemaskan. Zio tampak penasaran melihat boks bayi tempat Zayyan terbaring mengenakan pakaian berwarna putih.​"Bajunya lucu banget, Mbak Zahwa," puji Hilda lalu menunduk ke arah anaknya. "Zio, lihat nih Dik Zayyan... nanti kalau udah besar bisa main bareng Zio ya."​Tak lama kemudian, Kinara dan Alex datang. Mereka datang bersama Kania serta Alea yang membawakan kado besar untuk Zayyan.​"Selamat ya, Zahwa, Devan..." sapa Kania ramah seraya memeluk Zahwa. "Tante senang banget lihat kamu sudah sehat begini."​"Terima

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 324

    Setelah sesi menyusui pertama selesai, Zayyan yang sudah kenyang perlahan tertidur di dada Zahwa. Napasnya teratur dan tenang. Dengan kehati-hatian, perawat membantu memindahkan Zayyan kembali ke tempat tidur observasi sementara sebelum persiapan kepindahan sore nanti.Siang harinya, Devan akhirnya pamit untuk menuju ke kantor sebentar guna menyelesaikan urusan penandatanganan berkas yang sempat tertunda.​"Aku berangkat dulu ya, Sayang." Devan merengkuh tubuh Zahwa yang kini sudah bisa berdiri dan berjalan perlahan. "Nanti sore aku balik sebelum Zayyan dipindahkan ke kamar."​"Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan ngebut," pesan Zahwa seraya mencium tangan suaminya.Tepat pukul empat sore. ​Rombongan perawat masuk, mendorong sebuah boks bayi yang di dalamnya terbaring Zayyan Dewangga Sakti, terbungkus bedong kain biru langit.​"Selamat sore Bu Zahwa... Baby Zayyan sudah siap untuk rooming-in bersama Mama," tutur suster.Mbok Minah langsung menyambut dan menggendong Baby Zayyan. Setelah

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 323

    ​"Makasih, Hilda. Makasih udah diingatkan," tutur Zahwa, mencoba mengukir senyum kembali di wajahnya."Sama-sama, Mbak."​"Zahwa, kita jalan dulu ya, mau langsung mampir ke rumah sakit tempat Sherly dirawat untuk menyampaikan belasungkawa," ujar Tante Lia.​"Iya, Tante. Hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di sana," balas Zahwa.Mbok Minah pun mengantar keluarga Tante Lina sampai ke depan pintu.​Malam harinya, sekitar pukul delapan, Devan kembali datang, masih mengenakan kemeja kerjanya yang bagian lengannya sudah tergulung hingga siku. Wajahnya terlihat lelah, namun seketika kembali berbinar begitu melihat istrinya sedang duduk bersandar.​"Assalamu'alaikum..." ​"Wa'alaikumsalam..."​Devan segera membasuh wajah dan mencuci tangannya di kamar mandi. Begitu kembali ke sisi ranjang, ia langsung mengecup dahi Zahwa.​"Maaf ya, Sayang... aku agak malam baliknya. Tadi ada diskusi tambahan sama tim di kantor," tutur Devan parau. "Gimana kondisimu malam ini? Ada yang kerasa sakit gak?"

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 322

    Tante Lia terkekeh pelan melihat ekspresi terkejut Zahwa. Ia mendekati sisi ranjang, lalu mengusap bahu Lusi yang tersenyum malu-malu.​"Iya, Zahwa... Lusi sekarang lagi hamil tiga bulan," jawab Tante Lia. "Alhamdulillah, Lusi udah dikasih rezeki secepat ini. Tante minta doanya ya, Zahwa, supaya Lusi dan calon bayinya selalu sehat, diberi kelancaran sampai hari persalinan nanti."​Rasa terkejut Zahwa seketika berganti menjadi keharuan. ​"Masya Allah... selamat ya, Lusi! Tante Lia juga selamat! Aku ikut senang dengarnya. Aku doakan semoga Lusi sehat-sehat terus, nggak mual parah, dan debay di dalam kandungan tumbuh kuat serta lancar sampai lahiran nanti."​"Amin. Makasih banyak ya, Zahwa," sahut Lusi seraya memeluk Zahwa dengan hati-hati.​Setelah melepas pelukannya, Lusi mengambil sebuah bingkisan dari tas jinjing yang dibawanya. Ia menyerahkan bingkisan tersebut pada Mbok Minah.​"Ini ada sedikit bingkisan dariku sama Mama buat kamu dan baby Zayyan. Tadi sebelum ke sini, Tante Debby

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 321

    ​"Zayyan sekarang lagi dirawat di ruang NICU, Ra, Lex," jawab Devan, mengambil alih.​Mata Kinara membelalak, sementara Alex mengerutkan alisnya. "NICU? Kenapa, Dev?" ​"Waktu proses persalinan tadi pagi, asma Zahwa sempat kambuh sampai kadar oksigennya drop," terang Devan. "Kondisi itu berpengaruh ke pernapasan si Kecil pas masih di dalam kandungan. Begitu lahir, dokter anak harus langsung pasang bantuan pernapasan di NICU."​Kinara menutup mulutnya, matanya kembali berkaca-kaca menatap Zahwa. "Ya Allah, Wa..."​"Tapi kalian nggak usah khawatir," sela Zahwa, tersenyum tipis untuk menenangkan sahabatnya. "Zayyan anak yang kuat. Tadi aku sama Mas Devan baru aja dari NICU buat lihat dia. Dia udah bisa genggam telunjuk aku kencang banget, Ra.""Jadi... keponakanku namanya Zayyan?"​"Zayyan Dewangga Sakti," sahut Devan memperkenalkan nama putra pertamanya. "Itu nama yang disiapkan Zahwa buat jagoan kami."​"Zayyan Dewangga Sakti..." bisik Kinara mengulang nama itu, lalu mengusap sudut mat

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 6

    Zahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie."Resepsionis tadi langsung menund

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 4

    Darah Zahwa seolah mendidih membaca kalimat itu. Ia tahu kalimat itu adalah sindiran tajam untuk status pernikahannya.Zahwa meremas ponselnya. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Penghinaan yang terjadi secara terus-menerus ini terasa begitu tidak adil.Memangnya ia suka dipaksa masu

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 3

    Zahwa merasakan dadanya sesak. Ia meremas flashdisk di tangannya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.Valerie yang sejak tadi diam, menyesap minumannya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan anggun. "Sudahlah, jangan bahas itu. Aku nggak keberatan, kok. Bagiku, berad

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 2

    Zahwa tersentak. Ia segera menyembunyikan ponselnya di balik punggung. "E... Enggak kok, enggak ada apa-apa."Devan melangkahkan kakinya mendekati Zahwa. Ia menarik paksa tangan Zahwa, merebut ponsel dari genggamannya sebelum Zahwa sempat mengunci layar.Mata kehitaman Devan menyapu layar ponsel Z

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status