Share

Bab 4

Author: Gilva Afnida
last update publish date: 2026-05-02 22:07:33

Darah Zahwa seolah mendidih membaca kalimat itu. Ia tahu kalimat itu adalah sindiran tajam untuk status pernikahannya.

Zahwa meremas ponselnya. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Penghinaan yang terjadi secara terus-menerus ini terasa begitu tidak adil.

Memangnya ia suka dipaksa masuk dalam situasi yang pelik ini?

Ia pun merasa sakit dan tidak bahagia.

Hati wanita mana yang tidak sakit saat dituduh sebagai perusak oleh seorang wanita yang begitu terang-terangan bangga menjadi selingkuhan suaminya?

Zahwa menutup aplikasi itu dengan kasar dan melempar ponselnya ke atas tempat tidur.

Ia mematikan lampu kamar, membiarkan dirinya terlelap agar tak mengingat rasa sakit itu.

Keesokannya, Zahwa kembali beres-beres rumah dan membuat sarapan untuk dirinya sendiri seperti biasa.

Saat ia baru saja menaruh piring di atas wastafel, ponsel dalam saku celananya berdering panjang.

Zahwa segera merogoh ponsel lalu memeriksa layar. Itu panggilan dari ibu tirinya, Erma.

Ia memejamkan mata sejenak sebelum menggeser ikon hijau.

Belum sempat Zahwa mengucap salam, suara melengking di seberang sana langsung menghujam telinganya.

"Zahwa! Kamu itu punya otak nggak, sih? Apa kerjaanmu di rumah seharian sampai suamimu sendiri bisa menggandeng wanita lain di depan umum?!"

Zahwa menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga. "Ibu, aku—"

"Jangan banyak alasan!" potong Erma dengan penuh amarah.

"Ibu udah lihat postingan si Valerie itu. Kamu tahu siapa dia? Dia itu model papan atas, Zahwa! Cantik, seksi, berbakat, dan kelasnya jauh di atas kamu. Dibandingkan dia, kamu itu nggak ada apa-apanya!"

Zahwa mencengkeram pinggiran wastafel kuat-kuat. Kalimat ibu tirinya selalu terasa seperti sembilu yang menyayat luka lama.

"Dengar ya, Zahwa. Kamu harus lebih berusaha lagi! Dandan yang cantik kek! Layani suamimu dengan benar, jangan pasif kayak patung."

"Kalau sampai Devan menyingkirkanmu dan menceraikanmu hanya demi si model itu, semua usaha Abimu untuk menaikkan derajat keluarga kita akan sia-sia! Kami nggak mau kembali hidup susah hanya karena kamu nggak becus mengurus suami!"

"Jadi bagi kalian, aku ini cuma jaminan agar kalian bisa hidup mewah?" suara Zahwa bergetar.

"Jangan kurang ajar kamu kalau bicara! Kami ini orang tuamu, kami tahu apa yang terbaik untukmu. Sekarang, berhenti nangis dan pikirkan gimana cara menyingkirkan si Valerie itu. Jangan sampai posisimu digeser!"

Klik.

Sambungan terputus. Zahwa menatap layar ponselnya yang gelap dengan pandangan kosong.

Kalimat Erma barusan kembali terngiang-ngiang: "Valerie itu cantik, seksi... Kelasnya jauh di atas kamu."

Ia melihat pantulan wajahnya di layar ponsel. Wajahnya yang tanpa riasan nampak lelah dan kusam. Sama sekali tak ada binar keceriaan di sorot matanya yang sayu.

Sudah lebih dari lima belas tahun Zahwa mencintai Devan, namun pria itu nampaknya tidak akan membalas perasaannya.

Apakah bisa, dia tetap mempertahankan rumah tangganya jika keadaan terus seperti ini?

Dulu mereka adalah tetangga dekat. Devan adalah sosok yang selalu Zahwa kagumi dari jauh.

Bahkan demi Devan, Zahwa berani menerobos api saat kebakaran terjadi di rumah Devan sepuluh tahun yang lalu.

Namun Devan tidak pernah tahu bahwa Zahwalah yang mempertaruhkan nyawa untuknya.

Pria itu hanya tahu bahwa ia selamat karena bantuan orang asing yang tak dikenal.

Seandainya Devan tahu… asma yang diderita Zahwa, yang selalu menjadi ejekan orang-orang adalah hasil dari menolong Devan waktu itu.

Zahwa memang sengaja tidak memberitahu Devan. Tidak sekarang, dan mungkin tidak akan pernah.

Ia tidak ingin Devan menyerahkan dirinya karena merasa berhutang budi padanya.

Ia ingin Devan menyerahkan dirinya karena memang mencintainya, bukan karena hutang nyawa di masa lalu.

***

Sore hari di kafe dekat rumah Kinara, Zahwa duduk termenung menatap ke arah jendela luar, mengamati orang jalan berlalu lalang sambil tangannya memainkan sedotan di dalam gelas.

"Ra, aku lelah," bisik Zahwa, nampak putus asa.

Kinara menatap iba pada sahabatnya.

"Setiap kali aku melihat cara Mas Devan menatapku, aku merasa kayak jadi pencuri yang tertangkap basah. Padahal aku hanya mencintainya."

Kinara menghela napas panjang. "Wa, aku tahu kamu sudah mencintainya sejak lama. Pengorbananmu padanya nggak perlu diragukan lagi. Tapi, lihat dirimu sekarang, kamu seperti mawar layu yang hampir mati karena terus-terusan diabaikan dan nggak disiram."

Zahwa menunduk, butiran air mata mulai jatuh membasahi pipinya.

"Aku sempat berpikir, mungkin dengan pernikahan ini, dia akan mengenalku. Tapi ternyata, status istri hanya membuatnya semakin menjauh. Dia masih memiliki seseorang yang dia cintai, Ra."

"Terus, sampai kapan kamu mau begini?" tanya Kinara tegas.

"Wa, kamu ini masih muda. Kamu pintar dan punya masa depan yang cerah. Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"

Zahwa terdiam. Ucapan Kinara adalah sebuah fakta yang tidak ingin ia dengar.

"Kadang aku ingin menyerah, Ra. Kadang aku juga ingin pergi," ujar Zahwa pelan. "Tapi di sisi lain, saat aku melihat dia pulang dari kerja dengan gurat lelah di wajahnya, egoku runtuh. Aku masih ingin menjadi orang yang menyiapkan kopi untuknya, meski dia nggak pernah berterima kasih padaku."

Kinara menggelengkan kepala. "Itu bukan cinta, Wa. Itu pengorbanan yang merusak diri sendiri. Di saat kamu bersedih seperti ini, dimana Devan sekarang? Dia malah sedang bersama Valerie, dia bahagia di luar sana tanpa memikirkan kamu, Wa."

"Zahwa, mulai sekarang, kamu harus mulai mencintai dirimu sendiri.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Semicolon
Devan belum tahu pengorbanan Zahwa ...
goodnovel comment avatar
Ting Ting
Kok Zahwa terus yang disalahin?
goodnovel comment avatar
Siti Djunaeti
jengkel baca novel dgn karakter perempuan lemah kayak gini..... skip ajalah.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Tamat

    ​​Zahwa terperanjat pelan. Rona merah seketika merayap cepat memenuhi kedua pipinya hingga menjalar ke ujung telinga. Desir hangat dan perasaan membuncah menghantam dadanya, merasa dimanjakan oleh kecemburuan manis dari suaminya.​"Mas Devan... apaan sih, malu dilihat orang," bisik Zahwa seraya menepuk pelan dada Devan.​Devan terkekeh rendah. Ia mendaratkan satu kecupan singkat di kening Zahwa sebelum akhirnya merangkul bahu istrinya.​"Yuk... kita makan dulu, takutnya kamu nanti keburu pingsan karena belum makan apa-apa sejak tadi pagi.""Mas Devan... ih!"Devan terkekeh pelan, lalu mengajak Zahwa menuju ke meja prasmanan.***Empat tahun kemudian.Pagi itu berjalan seperti biasanya. Bedanya, Zahwa kini hidupnya terasa makin lengkap dan rumahnya terdengar makin semarak dengan adanya derap langkah kaki kecil yang kini meramaikan setiap sudut rumah.​Di ruang tengah, Zayyan yang kini sudah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia empat tahun tampak begitu aktif. Wajahnya makin tampan, m

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 325

    Pagi hari di kediaman, tepatnya di hari ketujuh Zayyan lahir, Devan dan Zahwa melaksanakan syukuran. Halaman rumah telah dihiasi dekorasi bernuansa pastel dan putih.​Seluruh keluarga besar dan tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ruangan. Irfan dan Debby menyambut para tamu dengan ramah, tak henti-hentinya menerima ucapan selamat atas kelahiran cucu pertama mereka.​Lia hadir bersama Lusi sedang di samping mereka, Hilda menggandeng tangan Zio yang begitu aktif dan menggemaskan. Zio tampak penasaran melihat boks bayi tempat Zayyan terbaring mengenakan pakaian berwarna putih.​"Bajunya lucu banget, Mbak Zahwa," puji Hilda lalu menunduk ke arah anaknya. "Zio, lihat nih Dik Zayyan... nanti kalau udah besar bisa main bareng Zio ya."​Tak lama kemudian, Kinara dan Alex datang. Mereka datang bersama Kania serta Alea yang membawakan kado besar untuk Zayyan.​"Selamat ya, Zahwa, Devan..." sapa Kania ramah seraya memeluk Zahwa. "Tante senang banget lihat kamu sudah sehat begini."​"Terima

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 324

    Setelah sesi menyusui pertama selesai, Zayyan yang sudah kenyang perlahan tertidur di dada Zahwa. Napasnya teratur dan tenang. Dengan kehati-hatian, perawat membantu memindahkan Zayyan kembali ke tempat tidur observasi sementara sebelum persiapan kepindahan sore nanti.Siang harinya, Devan akhirnya pamit untuk menuju ke kantor sebentar guna menyelesaikan urusan penandatanganan berkas yang sempat tertunda.​"Aku berangkat dulu ya, Sayang." Devan merengkuh tubuh Zahwa yang kini sudah bisa berdiri dan berjalan perlahan. "Nanti sore aku balik sebelum Zayyan dipindahkan ke kamar."​"Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan ngebut," pesan Zahwa seraya mencium tangan suaminya.Tepat pukul empat sore. ​Rombongan perawat masuk, mendorong sebuah boks bayi yang di dalamnya terbaring Zayyan Dewangga Sakti, terbungkus bedong kain biru langit.​"Selamat sore Bu Zahwa... Baby Zayyan sudah siap untuk rooming-in bersama Mama," tutur suster.Mbok Minah langsung menyambut dan menggendong Baby Zayyan. Setelah

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 323

    ​"Makasih, Hilda. Makasih udah diingatkan," tutur Zahwa, mencoba mengukir senyum kembali di wajahnya."Sama-sama, Mbak."​"Zahwa, kita jalan dulu ya, mau langsung mampir ke rumah sakit tempat Sherly dirawat untuk menyampaikan belasungkawa," ujar Tante Lia.​"Iya, Tante. Hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di sana," balas Zahwa.Mbok Minah pun mengantar keluarga Tante Lina sampai ke depan pintu.​Malam harinya, sekitar pukul delapan, Devan kembali datang, masih mengenakan kemeja kerjanya yang bagian lengannya sudah tergulung hingga siku. Wajahnya terlihat lelah, namun seketika kembali berbinar begitu melihat istrinya sedang duduk bersandar.​"Assalamu'alaikum..." ​"Wa'alaikumsalam..."​Devan segera membasuh wajah dan mencuci tangannya di kamar mandi. Begitu kembali ke sisi ranjang, ia langsung mengecup dahi Zahwa.​"Maaf ya, Sayang... aku agak malam baliknya. Tadi ada diskusi tambahan sama tim di kantor," tutur Devan parau. "Gimana kondisimu malam ini? Ada yang kerasa sakit gak?"

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 322

    Tante Lia terkekeh pelan melihat ekspresi terkejut Zahwa. Ia mendekati sisi ranjang, lalu mengusap bahu Lusi yang tersenyum malu-malu.​"Iya, Zahwa... Lusi sekarang lagi hamil tiga bulan," jawab Tante Lia. "Alhamdulillah, Lusi udah dikasih rezeki secepat ini. Tante minta doanya ya, Zahwa, supaya Lusi dan calon bayinya selalu sehat, diberi kelancaran sampai hari persalinan nanti."​Rasa terkejut Zahwa seketika berganti menjadi keharuan. ​"Masya Allah... selamat ya, Lusi! Tante Lia juga selamat! Aku ikut senang dengarnya. Aku doakan semoga Lusi sehat-sehat terus, nggak mual parah, dan debay di dalam kandungan tumbuh kuat serta lancar sampai lahiran nanti."​"Amin. Makasih banyak ya, Zahwa," sahut Lusi seraya memeluk Zahwa dengan hati-hati.​Setelah melepas pelukannya, Lusi mengambil sebuah bingkisan dari tas jinjing yang dibawanya. Ia menyerahkan bingkisan tersebut pada Mbok Minah.​"Ini ada sedikit bingkisan dariku sama Mama buat kamu dan baby Zayyan. Tadi sebelum ke sini, Tante Debby

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 321

    ​"Zayyan sekarang lagi dirawat di ruang NICU, Ra, Lex," jawab Devan, mengambil alih.​Mata Kinara membelalak, sementara Alex mengerutkan alisnya. "NICU? Kenapa, Dev?" ​"Waktu proses persalinan tadi pagi, asma Zahwa sempat kambuh sampai kadar oksigennya drop," terang Devan. "Kondisi itu berpengaruh ke pernapasan si Kecil pas masih di dalam kandungan. Begitu lahir, dokter anak harus langsung pasang bantuan pernapasan di NICU."​Kinara menutup mulutnya, matanya kembali berkaca-kaca menatap Zahwa. "Ya Allah, Wa..."​"Tapi kalian nggak usah khawatir," sela Zahwa, tersenyum tipis untuk menenangkan sahabatnya. "Zayyan anak yang kuat. Tadi aku sama Mas Devan baru aja dari NICU buat lihat dia. Dia udah bisa genggam telunjuk aku kencang banget, Ra.""Jadi... keponakanku namanya Zayyan?"​"Zayyan Dewangga Sakti," sahut Devan memperkenalkan nama putra pertamanya. "Itu nama yang disiapkan Zahwa buat jagoan kami."​"Zayyan Dewangga Sakti..." bisik Kinara mengulang nama itu, lalu mengusap sudut mat

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 7

    "Apa? Devan memintamu mencarikan kado untuk Valerie? Apa dia masih waras?" Zahwa sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar lengkingan suara Kinara."Dan kamu menerima permintaan itu begitu saja?" Suara Kinara terdengar tak terima."Mau bagaimana lagi?" Zahwa menghela napasnya

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 6

    Zahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie."Resepsionis tadi langsung menund

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 5

    Setelah pertemuannya dengan Kinara, Zahwa pulang dan kembali masuk kamar. Ucapan Kinara di kafe tadi terus terngiang-ngiang dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang."...Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"Zahwa tak tahu akan keman

  • Ketika Aku Mulai Melepaskanmu   Bab 3

    Zahwa merasakan dadanya sesak. Ia meremas flashdisk di tangannya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.Valerie yang sejak tadi diam, menyesap minumannya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan anggun. "Sudahlah, jangan bahas itu. Aku nggak keberatan, kok. Bagiku, berad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status