Devan cepat-cepat bangkit berdiri, merapikan letak kerah kemejanya. "Ah, ini... cuma urusan kerjaan kantor biasa kok. Ada beberapa surel dari klien yang harus segera dibalas.""Pekerjaan kantor atau... kamu dapat teror dari nomor nggak dikenal lagi? Apa bawahan kakeknya Mas Faris masih terus mengancammu, Mas?" Zahwa masih merasa khawatir akan ancaman yang sempat diterima suaminya itu."Enggak, Sayang. Demi Allah, bukan soal teror itu. Polisi udah melacak nomor-nomor kemarin, jadi sekarang udah aman. Kamu jangan khawatir, ya?"Zahwa menghela napas, masih merasa ada sesuatu yang janggal namun ia tidak ingin mendebat suaminya lebih jauh. "Beneran, Mas? Jangan ada yang disembunyikan dari aku, ya.""Iya, beneran. Istriku yang cantik nggak usah overthinking deh," ujar Devan lembut, lalu melirik jam tangannya. "Udah jam segini, yuk, lekas berangkat. Jalanan ke rumah Mama kalau jam segini biasanya mulai padat. Nggak enak kalau kita sampai bikin Mama nunggu terlalu lama
Read more