"Iya kan, Sayang?" Devan menoleh ke arah Zahwa, mencari dukungan.Pertanyaan itu membuat Zahwa tersentak. Ia mengerjapkan matanya cepat, mencoba menguasai diri agar riak emosinya tidak terbaca."E, eh... i-iya, Ma, Pa. Benar kata Mas Devan." Zahwa tersenyum sekilas, agak dipaksakan."Ish, kamu nih, Dev!" Debby bergumam kesal, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tangan terlipat. "Disuruh ini-itu kok susah banget, ada aja alasannya. Padahal semua udah dimudahin, loh. Kamu itu tinggal berangkat, nikmati suasana, pacaran lagi sama istri. Papa yang akan bayar dan urus semuanya, kalian tinggal terima beres!""Nanti kalau urusan proyek besar itu udah selesai dan gol, Insyaallah aku sendiri yang akan mengajak Zahwa liburan, Ma," balas Devan, mencoba menenangkan."Itu mah masih lama, Dev! Keburu lupa..." cibir Debby."Ya enggak dong, Ma. Lebih baik menunda sebentar sampai situasinya tepat, daripada kita terburu-buru pergi tapi malah dapat hasil nggak baik karena
Read more