Sementara di tempat lain, di sebuah rumah yang suasananya sedang sepi, Erma melangkah gontai menyusuri koridor lantai dua. Tangannya membawa sebuah nampan berisi sepiring nasi dan lauk seadanya untuk diantarkan ke kamar Faris.Begitu membuka pintu kamar putra semata wayangnya itu, Erma mendesah pelan. Ia menaruh nampan di atas meja belajar yang berantakan, lalu berjalan menuju jendela untuk menyibak gorden, membiarkan cahaya matahari menembus masuk dan menerangi kamar yang berantakan tersebut."Faris, bangun, Nak. Udah siang ini," ujar Erma, mencoba menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuh Faris.Pria dengan rambut yang dicat cokelat pudar itu mengerang kesal, lalu dengan kasar menarik kembali selimutnya hingga membungkus kepala."Udah jam dua belas siang, Faris. Dari semalam kamu belum makan. Ayo, bangun dan makan dulu," bujuk Erma lagi, mengusap pundak anak kesayangannya itu."Berisik ah, Bu! Aku masih ngantuk! Jangan ganggu!" bentak Faris dari balik selimu
더 보기