"Ini kamu ada di rumah, kan, Res? Kalau iya, aku sama Mas Devan ke sana langsung buat mengecek," tanya Zahwa cepat, mengenyahkan rasa gelisahnya."Iya, Mbak. Ini aku baru sampai rumah setelah di-WA sama karyawan toko," balas Ares dari seberang telepon."Baiklah, aku ke sana sekarang, ya.""Iya, Mbak. Hati-hati di jalan."Zahwa pun memutuskan sambungan, lalu menarik napas panjang untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Devan yang memperhatikan sejak tadi tak sanggup lagi menahan rasa penasarannya. "Ada apa, Sayang?"Zahwa memutar tubuhnya menghadap Devan. "Ares bilang ada returan paket lagi dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari beberapa akun berbeda. Alasannya sama kayak kemarin. Ares curiga ini bukan sekadar komplain biasa, tapi ada yang sengaja mau jatuhin toko kita."Mendengar hal itu, raut wajah Devan seketika mengeras. Tatapan matanya menajam. "Itu pasti ulah pesaing yang enggak mau tokomu naik," tegasnya. Ia meraih jari Zahwa dan menggenggamnya. "Biar aku bantu hubungi
Read more