Devan menghela napasnya panjang. Berusaha mengusir rasa jengkel yang sempat menyergap. "Sekarang juga kita ke rumah sakit. Biar dokter yang periksa kamu," tegasnya, hendak membopong tubuh Zahwa.Zahwa segera menahan lengan Devan, menggeleng pelan. "Jangan sekarang, Mas... kamu kan baru banget pulang kerja, pasti capek banget. Apalagi kamu belum mandi, belum makan juga.""Zahwa, kesehatan kamu lebih penting dari makan malamku!" potong Devan, dadanya naik turun menahan emosi dan kecemasan."Aku enggak apa-apa, Mas. Tadi cuma pusing karena kelewat capek aja," bujuk Zahwa. "Kamu istirahat dulu malam ini. Aku janji, besok pagi aku akan periksa ke dokter."Devan menatap Zahwa lekat-lekat, sebelum membuang napas lewat mulut, mencoba meredakan emosinya yang sempat kembali memuncak."Besok pagi. Enggak ada penolakan lagi, titik," putus Devan. "Aku sendiri yang bakal antar dan dampingi kamu di depan dokter."Namun, keesokan harinya, saat Devan sudah hendak mengan
Read more