Kalimat tajam Alea membuat wanita paruh baya itu bungkam seribu bahasa. Kata-kata putrinya mulai bergaung di benaknya.Tanpa menunggu balasan maminya lagi, Alea mendengkus kesal, memutar badan, dan melangkah lebar kembali menuju kamarnya.Dentuman pintu kamar Alea yang ditutup keras membuat Kania terhenyak. Ia perlahan melepaskan pegangannya pada sandaran kursi dan terduduk lemas.Kania meremas kedua tangannya. Untuk pertama kalinya, Kania merasakan perasaan bersalah yang amat sangat pada kedua anaknya. Kata-kata Alea terus berputar tanpa henti dalam benaknya, membuat dadanya terasa nyeri.Dalam keputusasaan, Kania mendadak teringat pada Devan, sahabat karib Alex. Dulu, persoalan pernikahan Devan juga begitu rumit.Tanpa membuang waktu, Kania meraih ponselnya dan mencari kontak Debby, mama dari Devan. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya."Halo, Kania? Apa kabar? Tumben telepon siang-siang?" panggil Debby, suaranya terdengar
Read more