Pintu ruang kerja pribadi Javendra tertutup rapat. Javendra menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, menatap kosong ke arah dokumen di mejanya. "Jadi, wanita itu mulai gelisah dan ingin kembali. Dia kira aku mudah dibodohi oleh air mata palsunya." Bayangan Amara, wanita yang melahirkannya tapi tidak pernah memberinya kasih sayang, kembali melintas. Pengkhianatan Amara bersama Jayden, paman angkat yang paling dibenci Javendra, masih tercetak jelas di ingatan. "Setelah dibuang dan dilupakan oleh pria idaman hatinya, dia baru memohon padaku." Amara hanya ingin takhta Maheswara Group, bukan dirinya, apalagi mendiang ayahnya. Kini, setelah Javendra melucuti seluruh kepemilikan saham wanita itu hingga mengusirnya keluar, Jayden yang diharapkan Amara sebagai penyelamat justru melarikan diri ke Makau untuk bersenang-senang dan berjudi. Amara hancur, ditinggalkan, dan tidak punya pilihan selain memohon ampun pada Javendra melalui Bram. Dering telepon di atas meja memecah kehe
Read more