Javendra meraih map kulit berwarna gelap yang tergeletak tepat di atas nakas, map yang sejak kemarin tidak pernah jauh dari jangkauannya. Ia membukanya perlahan, mengeluarkan lembaran kertas hasil cetakan USG hitam putih dari laboratorium rumah sakit. "Lihat ini," gumam Javendra rendah. Tangannya mengarahkan foto tersebut ke depan Sasa, sementara matanya sendiri terpaku pada titik kecil di dalam gambar tersebut. "Kemarin sewaktu mendengarkan detak jantungnya, aku benar-benar merasa ada yang bergetar di dalam dadaku. Sesuatu yang bahkan tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata." Sasa menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Javendra, ikut memperhatikan gambar tersebut dengan tatapan penuh kehangatan. "Itu suara kehidupan anak kita, Mas. Dia tumbuh di dalam perutku. Kata dokter, ukurannya sekarang masih sangat kecil, mungkin belum sebesar biji buah." "Tapi dampaknya pada kita sudah sangat besar," potong Javendra mantap. Jempol tangannya mengusap tepi cetakan foto itu sebelum panda
Read more