"Tidak terlalu, Mas. Yang ini enak dan hangat," cicit Sasa pelan, merasa bersalah karena sudah membuat suaminya repot mengurus sarapannya. "Makan beberapa suap lagi," instruksi Javendra tenang, menyuapkan sendok kedua dengan kehati-hatian yang luar biasa. Sasa menerima dua suapan lagi, namun pada suapan keempat, perutnya kembali memberikan dorongan menolak yang cukup kuat. Sasa mengangkat tangannya pelan, menghentikan sendok Javendra di udara. "Sudah, Mas... Perutku benar-benar terasa penuh dan agak mual kalau ditambah lagi," pangkas Sasa halus. Javendra meletakkan sendok kembali ke dalam mangkuk. Pria tegap itu mengambil tisu kain, mengusap sudut bibir Sasa dengan gerakan yang sangat lembut dan sabar. "Cuma masuk tiga suap," gumam Javendra, memandangi mangkuk bubur yang masih menyisakan banyak isi. "Maaf ya, Mas Javendra..." cicit Sasa menundukkan kepalanya. "Aku malah merusak acara sarapan kita." Javendra menghela napas pendek. Pria itu mengulurkan tangannya, merangkul
อ่านเพิ่มเติม