Axel mondar-mandir di depan ruang tunggu seperti setrika panas. Langkahnya tak beraturan. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Sesekali ia melirik jam di pergelangan tangan, tapi jarum detiknya seolah bergerak terlalu lambat.Safira duduk di bangku tak jauh darinya. Matanya mengikuti Axel yang bolak-balik, bingung sekaligus gelisah.Ia tak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi. atau setidaknya, berpura-pura begitu.Beberapa menit berlalu. Safira akhirnya berdiri dan mendekat. “Ax,” ucapnya pelan, mencoba menenangkan.“Udah yuk, kita pulang aja. Ngapain sih masih di sini?”Axel berhenti melangkah, tapi tak menoleh. “Aku baik-baik aja kok,” lanjut Safira cepat. “Bayinya juga pasti sehat. Aku nggak ngerasa apa-apa. Nggak sakit, nggak kenapa-kenapa.” Axel mendengus pelan. “Ck.” Ia menepis tangan Safira yang mencoba menyentuh lengannya.Belum sempat Safira berkata apa-apa lagi, pintu ruang dokter terbuka. “Pak Axel.”Axel langsung menoleh. “Iya, Dok.”“Ax, nggak usah lah,” Safir
Last Updated : 2026-08-12 Read more