Meysa menahan napasnya. Di atasnya, Adrian mengukungnya dengan begitu kokoh, mengunci seluruh pergerakannya. Ketika manik mata mereka saling bertumbukan, ada badai emosi yang bergolak di dalam diri Meysa. Sepasang matanya menyiratkan ketakutan yang samar bukan karena ancaman bahaya, melainkan karena rasa gugup yang luar biasa bersanding dengan rasa malu yang kini mati-matian ia sembunyikan.Adrian tidak melewatkan kilat emosi itu. Perlahan, jemari kokohnya bergerak, mengelus pipi Meysa dengan begitu lembut. Sentuhan itu hangat, kontras dengan sensasi dingin yang sedari tadi menggelitik perut Meysa. Adrian menatap sang istri yang kini tampak begitu pasrah di bawah kungkungannya, menyerah pada dominasi yang tak kasat mata.Sebuah senyum tipis, hampir tak kentara, terukir di bibir Adrian."Kamu memilih pakaian yang tepat malam ini, Mey," bisik Adrian, suaranya berat dan rendah, mengirimkan getaran halus langsung ke detak jantung Meysa.Namun, usapan jemarinya berhenti tepat di dagu Meysa
続きを読む