Sinar matahari pagi menerobos celah-celah dedaunan di halaman rumah, Satrio duduk di kursi teras sembari menggenggam secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis. Di hadapannya, Ningrum duduk menunduk dalam-dalam. Wajah gadis sekampungnya itu tampak sembap, matanya merah, dan jemarinya terus meremas ujung daster yang ia kenakan. Keheningan di antara mereka akhirnya pecah saat Ningrum mulai memberanikan diri untuk bersuara, mengalirkan kejujuran yang sejak semalam menyumbat dadanya."Rio... maafkan aku soal semalam," lirih Ningrum, suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah kembali.Satrio menyesap kopinya perlahan, lalu meletakkan cangkir itu ke atas meja. "Ceritakan semuanya, Ningrum. Kenapa kamu harus berbohong kepada Mbok Sumi soal lembur itu?""A-awalnya beberapa hari lalu, Pak Purnama mengajakku keluar. Dia itu atasan langsungku di pabrik, Rio. Jadi saat dia bilang ada urusan pekerjaan untuk membeli beberapa keperluan kantor, aku tidak bisa menolak," jawab Ningr
Baca selengkapnya