INICIAR SESIÓN"Rio... tubuhmu kelihatan sangat lelah dan tegang setelah seharian menghadapi banyak masalah di kantor, terutama masalah Malika dan teman lelakinya itu," bisik Adirah dengan kerlingan mata menggoda."Iya, pikiranku agak penat hari ini," sahut Satrio pendek.Adirah menggeser duduknya satu jengkal lebih dekat lagi, hingga aroma parfum lavendernya menyerbu indra penciuman Satrio. "Bagaimana kalau aku pijat sebentar punggungnya biar kamu merasa lebih rileks dan nyaman?" rayu Adirah sembari menyentuh lembut pundak Satrio, memberikan penawaran manis yang sarat akan sensualitas.Satrio menoleh, menatap lekat ke dalam sepasang mata Adirah yang memancarkan kepasrahan yang mendalam. Pengaruh energi giok di dadanya kian berdenyut hangat, merespons gairah yang menguar kuat di antara mereka. Satrio mengangguk pelan, memberikan izin mutlak, "Boleh, Adirah. Tolong ya..."Mendapat persetujuan itu, Adirah langsung bangkit berdiri dari sofa dengan senyum yang terukir di bibirnya. Ia melangkah ke arah
Malam kian larut saat mobil sport merah milik Satrio melesat membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di dalam mobil yang sejuk, keheningan terasa begitu kuat dan menegangkan. Satrio mencengkeram kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih bertumpu tegas di atas paha Adirah.Adirah menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk dengan napas yang memburu halus. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya yang dibalut blazer merah marun terasa sesak. Sentuhan tangan Satrio di pahanya seolah mengalirkan setruman yang membakar habis sisa-sisa logikanya.Ia melirik profil samping wajah Satrio yang tampak begitu tegas dan dingin di bawah temaram lampu dasbor. Di dalam benak Adirah, rasa cemburu akibat masalah Malika siang tadi mendadak menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah buncahan rasa bahagia dan harapan yang melambung tinggi karena malam ini ia berhasil dibawa ke ruang privat sang Presiden Direktur Sementara itu.Mobil sport mewah itu akhirnya berbelok mema
Mobil mewah milik Satrio membelah jalanan sore yang mulai dipadati kendaraan. Di dalam mobil yang sejuk, keheningan sempat mendominasi sebelum akhirnya mereka tiba di pekarangan rumah baru Satrio. Rumah megah bernuansa modern itu tampak asri dengan taman kecil di bagian depannya. Adirah yang duduk di kursi penumpang langsung merapikan penampilannya, memastikan tidak ada sehelai rambutpun yang berantakan. Senyum manis yang tampak begitu tulus dan polos sengaja ia pasang di wajah cantiknya.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aroma harum masakan langsung menyambut penciuman mereka. Di ruang tengah, kedua orang tua Satrio, Mbok Sumini dan Pak Sukirman, sedang duduk bersantai."Ibu, Bapak, ini Adirah. Sekretaris utama Satrio di kantor," ucap Satrio memperkenalkan wanita di sebelahnya dengan nada suara yang masih terdengar datar akibat sisa kekecewaan dari kantor.Adirah segera melangkah maju dengan gerakan yang sangat sopan. Ia membungkuk rendah, lalu meraih tangan Mbok Sumi dan Pak K
Hati Satrio bergemuruh hebat, terbakar oleh rasa kecewa dan amarah yang mendidih di dalam dada. Pandangannya terpaku pada dua sosok di ujung lorong itu dengan tatapan tajam. Tanpa memedulikan Adirah yang berdiri di sampingnya, Satrio menghentakkan langkah kaki dengan kasar membelah kesunyian koridor remang-remang tersebut.Tak! Tak! Tak! Suara langkah sepatu pantofel Satrio yang menghentak keras seketika memecah kemesraan di sudut tangga darurat. Riko yang sedang mengelus rambut Malika langsung membeku, sementara Malika yang masih sesegukan mendongak dengan mata yang sembap."Bagus sekali. Jadi begini cara kalian memanfaatkan jam kerja di perusahaan ini?!" suara Satrio menggelegar, dingin dan sarat akan penekanan yang menusuk.Malika terkejut setengah mati dan langsung kehilangan kata-kata. Lidahnya mendadak kelu, terkunci rapat oleh rasa syok yang luar biasa melihat kehadiran Satrio. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendapati sepasang mata pria yang semalam menatapnya pen
"Satu pengganggu sudah berhasil disingkirkan jalurnya," gumam Adirah pelan pada dirinya sendiri. "Kini tinggal bagaimana aku mengatur waktu untuk mendekati kedua orang tua Satrio di rumah barunya. Setelah Malika pergi dari kantor ini, fokus Satrio pasti akan kembali sepenuhnya padaku."Namun, kegembiraan Adirah yang meluap-luap itu mendadak terhenti ketika ia mendengar suara gagang pintu ruangan Satrio bergerak dari dalam. Senyum kemenangan di wajahnya dalam sekejap langsung ia hapus, digantikan dengan raut wajah profesional yang tenang dan patuh.Klek…. Pintu kayu itu terbuka lebar, dan Satrio melangkah keluar dengan setelan jasnya yang rapi, memegang beberapa lembar dokumen di tangan kirinya. Wajah sang Presdir tampak sedikit lelah setelah rapat panjang, namun matanya yang tajam langsung menyapu ruangan sekretariat, menatap lurus ke arah Adirah.Adirah dengan cepat berdiri dari kursi kerjanya begitu melihat Satrio melangkah keluar. Ia menunduk hormat, menstabilkan detak jantungnya a
Suasana kantin karyawan Shine Group di lantai dasar siang itu sangat ramai. Aroma masakan beradu dengan riuh rendah obrolan para staf yang sedang melepas penat. Di sudut dekat jendela, Malika duduk sendirian menghadapi sepiring nasi campur yang baru disentuhnya sedikit. Gadis polos itu berusaha mengabaikan beberapa tatapan aneh dari meja seberang sejak ia mengantre makanan tadi.Tiba-tiba, suara tawa yang sengaja dikeraskan terdengar mendekat. Maya berjalan memimpin kelompoknya yang terdiri dari tiga staf senior lainnya. Mereka sengaja memilih meja tepat di samping Malika, lalu meletakkan nampan mereka dengan hentakan yang cukup keras."Aduh, zaman sekarang ya, penampilan polos itu ternyata cuma modal buat nutupin kelakuan yang murah," sindir Maya dengan suara lantang, sengaja memancing perhatian karyawan di sekitar mereka.Teman di sebelahnya terkekeh sinis. "Maksudmu gimana, May? Ada yang mukanya kayak orang kampung tapi seleranya mobil mewah direksi?""Ya siapa lagi kalau bukan ya
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me






