MasukMobil mewah milik Satrio membelah jalanan sore yang mulai dipadati kendaraan. Di dalam mobil yang sejuk, keheningan sempat mendominasi sebelum akhirnya mereka tiba di pekarangan rumah baru Satrio. Rumah megah bernuansa modern itu tampak asri dengan taman kecil di bagian depannya. Adirah yang duduk di kursi penumpang langsung merapikan penampilannya, memastikan tidak ada sehelai rambutpun yang berantakan. Senyum manis yang tampak begitu tulus dan polos sengaja ia pasang di wajah cantiknya.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aroma harum masakan langsung menyambut penciuman mereka. Di ruang tengah, kedua orang tua Satrio, Mbok Sumini dan Pak Sukirman, sedang duduk bersantai."Ibu, Bapak, ini Adirah. Sekretaris utama Satrio di kantor," ucap Satrio memperkenalkan wanita di sebelahnya dengan nada suara yang masih terdengar datar akibat sisa kekecewaan dari kantor.Adirah segera melangkah maju dengan gerakan yang sangat sopan. Ia membungkuk rendah, lalu meraih tangan Mbok Sumi dan Pak K
Hati Satrio bergemuruh hebat, terbakar oleh rasa kecewa dan amarah yang mendidih di dalam dada. Pandangannya terpaku pada dua sosok di ujung lorong itu dengan tatapan tajam. Tanpa memedulikan Adirah yang berdiri di sampingnya, Satrio menghentakkan langkah kaki dengan kasar membelah kesunyian koridor remang-remang tersebut.Tak! Tak! Tak! Suara langkah sepatu pantofel Satrio yang menghentak keras seketika memecah kemesraan di sudut tangga darurat. Riko yang sedang mengelus rambut Malika langsung membeku, sementara Malika yang masih sesegukan mendongak dengan mata yang sembap."Bagus sekali. Jadi begini cara kalian memanfaatkan jam kerja di perusahaan ini?!" suara Satrio menggelegar, dingin dan sarat akan penekanan yang menusuk.Malika terkejut setengah mati dan langsung kehilangan kata-kata. Lidahnya mendadak kelu, terkunci rapat oleh rasa syok yang luar biasa melihat kehadiran Satrio. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendapati sepasang mata pria yang semalam menatapnya pen
"Satu pengganggu sudah berhasil disingkirkan jalurnya," gumam Adirah pelan pada dirinya sendiri. "Kini tinggal bagaimana aku mengatur waktu untuk mendekati kedua orang tua Satrio di rumah barunya. Setelah Malika pergi dari kantor ini, fokus Satrio pasti akan kembali sepenuhnya padaku."Namun, kegembiraan Adirah yang meluap-luap itu mendadak terhenti ketika ia mendengar suara gagang pintu ruangan Satrio bergerak dari dalam. Senyum kemenangan di wajahnya dalam sekejap langsung ia hapus, digantikan dengan raut wajah profesional yang tenang dan patuh.Klek…. Pintu kayu itu terbuka lebar, dan Satrio melangkah keluar dengan setelan jasnya yang rapi, memegang beberapa lembar dokumen di tangan kirinya. Wajah sang Presdir tampak sedikit lelah setelah rapat panjang, namun matanya yang tajam langsung menyapu ruangan sekretariat, menatap lurus ke arah Adirah.Adirah dengan cepat berdiri dari kursi kerjanya begitu melihat Satrio melangkah keluar. Ia menunduk hormat, menstabilkan detak jantungnya a
Suasana kantin karyawan Shine Group di lantai dasar siang itu sangat ramai. Aroma masakan beradu dengan riuh rendah obrolan para staf yang sedang melepas penat. Di sudut dekat jendela, Malika duduk sendirian menghadapi sepiring nasi campur yang baru disentuhnya sedikit. Gadis polos itu berusaha mengabaikan beberapa tatapan aneh dari meja seberang sejak ia mengantre makanan tadi.Tiba-tiba, suara tawa yang sengaja dikeraskan terdengar mendekat. Maya berjalan memimpin kelompoknya yang terdiri dari tiga staf senior lainnya. Mereka sengaja memilih meja tepat di samping Malika, lalu meletakkan nampan mereka dengan hentakan yang cukup keras."Aduh, zaman sekarang ya, penampilan polos itu ternyata cuma modal buat nutupin kelakuan yang murah," sindir Maya dengan suara lantang, sengaja memancing perhatian karyawan di sekitar mereka.Teman di sebelahnya terkekeh sinis. "Maksudmu gimana, May? Ada yang mukanya kayak orang kampung tapi seleranya mobil mewah direksi?""Ya siapa lagi kalau bukan ya
Malam itu, Adirah tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan Satrio dan Malika yang bertemu diam-diam di halte bus terus berputar di kepalanya, membakar setiap jengkal kesabarannya. Baginya, posisi sekretaris utama bukan hanya sekadar pekerjaan, melainkan batu loncatan untuk menjadi wanita nomor satu di hidup Satrio. Ia tidak akan membiarkan seorang gadis ingusan dari bagian arsip merusak semua rencana besar yang sudah ia susun rapi.Keesokan paginya, Adirah tiba di kantor jauh lebih awal dari biasanya. Dengan langkah anggun namun tegas, ia sengaja melewati meja resepsionis dan beberapa divisi untuk memantau situasi. Begitu melihat Satrio berjalan memasuki lobi dengan langkah tegapnya yang khas, Adirah langsung memasang senyum paling manis dan menghampirinya."Selamat pagi, Pak Satrio," sapa Adirah dengan nada suara yang diatur formal sedemikian rupa agar terdengar lembut dan perhatian.Satrio hanya mengangguk pelan tanpa menghentikan langkahnya menuju lift eksekutif. "Pagi, Mbak Adi
Hal ini sangat tidak biasa. Sebagai seorang Presdir yang terkenal gila kerja, Satrio hampir tidak pernah pulang tepat waktu pada pukul lima sore, terlebih lagi tanpa memberikan memo atau jadwal sisa hari itu kepada dirinya sebagai sekretaris utama.Kepergian Satrio yang mendadak dan terkesan terburu-buru itu memicu kecurigaan di kepala Adirah. Rasa bersalahnya yang tadi pagi membuat ia bersikap manja, kini perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang membakar ego dan kecemburuannya."Tidak mungkin Pak Satrio pulang cepat tanpa alasan," gumam Adirah pelan, matanya menyipit penuh selidik.Pikirannya langsung melayang pada informasi yang baru saja ia dapatkan beberapa menit lalu dari dua orang staf administrasi keuangan. Kedua staf itu tidak sengaja berpapasan dengannya di dekat pantri dan menceritakan kejanggalan yang mereka lihat tadi siang."Bu Adirah, tadi siang kami melihat Pak Satrio sendiri di ruang arsip lantai dasar," ujar salah satu staf dengan suara berbisik saat itu. "Bapak b
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik







