Jarum jam dinding di ruang kerja Satrio akhirnya bergerak menembus angka lima sore. Bunyi bel tanda berakhirnya jam kantor menggema di setiap penjuru koridor Shine Group, disusul oleh langkah kaki karyawan yang bersiap untuk pulang. Di lobi utama lantai dasar, suasana mendadak ramai oleh antrean di depan mesin absensi. Di sudut ruangan yang strategis, tidak jauh dari pintu kaca otomatis, Selina berdiri tegak dengan keanggunan yang sengaja ia pamerkan. Ia telah memperbarui riasan wajahnya seindah mungkin, memulas gincu merah pekatnya, dan terus melirik ke arah lift dengan pandangan mata yang posesif. Di kepalanya, ia sudah mengunci janji sore hingga malam ini bersama Satrio. Selina tidak akan membiarkan ada wanita lain, termasuk Adirah, yang mengusik lelaki pilihan hatinya itu malam ini.Namun, Satrio yang masih di lantai atas, kini bukanlah pemuda gampangan yang bisa dengan mudah disetir atau dijebak begitu saja. Pengaruh energi dari Putih dan getaran konstan dari giok pemikat hasr
Read more