MasukSuasana di lantai tertinggi kantor pusat Shine Group benar-benar berubah total sejak pengumuman pagi tadi. Papan nama kuningan di depan pintu ruang kerja utama kini telah berganti dengan ukiran nama yang tegas: Satrio - Presiden Direktur Sementara.Seluruh staf sekretariat berjalan dengan langkah cepat dan setengah menunduk, tidak berani memicu kemarahan sang pimpinan baru yang terkenal dingin dan tak kenal kompromi saat mengeksekusi nasib Nikko Prambudi.Tepat pukul satu siang, setelah jam istirahat berakhir, pintu lift eksekutif berdenting terbuka di lantai utama. Malika melangkah keluar sambil mendekap sebuah map kulit berwarna biru tua di dadanya. Sebagai perwakilan dari Divisi HRD, ia ditugaskan secara mendadak oleh kepala divisinya untuk mengantarkan dokumen penyesuaian struktur organisasi serta berkas mutasi posisi Nikko Prambudi yang kini resmi menjadi bawahan operasional.Jantung Malika berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Setiap derap langkah sepatunya di atas lantai
Keesokan hari, tepat pukul delapan kurang lima menit, pintu lift eksekutif terbuka. Satrio melangkah keluar dengan pembawaan yang teramat tenang namun memancarkan dominasi yang luar biasa pekat. Pagi ini, ia mengenakan setelan jas hitam potongan slim-fit berkelas yang dipadukan dengan kemeja putih bersih di bagian dalam. Di balik kain kemejanya, liontin giok jernih memancarkan denyutan hangat. Gelombang energi spiritual itu menyatu sempurna dengan aliran darahnya, memberikan aura kewibawaan yang membuat siapa saja yang berpapasan dengannya secara refleks menundukkan kepala tanda hormat.Di belakang Satrio, Adirah berjalan dengan langkah anggun namun tegas. Sekretaris utama Shine Group itu membawa sebuah map cokelat hitam tebal. Tatapan mata Adirah kini sepenuhnya stabil, dingin, dan profesional, tidak lagi menyisakan kecanggungan.Ketika Satrio memasuki ruang rapat yang megah dengan meja oval panjang di tengahnya, hampir seluruh kursi telah terisi. Di ujung meja, duduk Pak Dewan Kom
"Syarat pertama yang ingin aku berikan... biarkan aku menunaikannya sekarang, Rio. Aku tidak ingin kamu berubah pikiran besok pagi," bisik Sisilia dengan suara parau yang teramat seksi dan menggoda.Wanita sosialita itu perlahan membuka pintu depan, lalu merangkak pindah menuju kursi penumpang bagian belakang yang berukuran sangat luas dan dilapisi kulit yang empuk. Di bawah pencahayaan basemen yang temaram, Sisilia perlahan melepas mantelnya, membiarkan tubuh putihnya yang masih sangat terawat berbalut gaun tipis terpampang nyata di hadapan Satrio.Satrio menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi penumpang yang empuk. Sepasang matanya yang tajam menatap ke bawah dari posisinya yang dominan. Ia membiarkan Sisilia bergerak dengan penuh kepatuhan di dalam kesunyian kabin mobil mewah yang kedap suara itu.Dengan jemari yang gemetar halus karena perpaduan rasa takut dan gairah mistis yang mengunci akal sehatnya, Sisilia perlahan membuka ikat pinggang dan ritsleting celana panjang yang di
Satrio baru saja hendak memejamkan mata setelah melewati hari yang melelahkan ketika ponsel di atas nakas bergetar panjang. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sangat ia kenal: Sisilia.“Satrio, aku tahu besok jam delapan pagi kamu mengagendakan rapat darurat dewan direksi. Kamu ingin menghancurkan Nikko, bukan? Tolong, jangan lakukan itu sebelum mendengar penjelasanku. Aku harus bertemu denganmu malam ini juga. Ini masalah hidup dan mati putraku.”Satrio menyipitkan mata, membaca baris demi baris kalimat penuh kepanikan itu. Seringai dingin terukir di wajah tampannya. Rupanya, rencana eksekusi rahasia yang ia susun bersama Adirah dan Dewan Komisaris telah bocor dan sampai ke telinga sang Wakil Direktur Pabrik Utama. Satrio mendengus pelan, berniat mengabaikan pesan tersebut. Baginya, nasib Nikko sudah berada di ujung tanduk dan tidak ada ruang untuk negosiasi lagi.Ditambah ia melirik jarum jam dinding di kamar rumah mewah barunya itu telah melewati angka dua belas malam. Su
Malika menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan seiring dengan hilangnya sisa-sisa ketegangan dalam dirinya. "Aku mengerti sekarang, Rio. Maaf kalau tadi sempat salah paham. Kejadian di kampus dulu dengan Ayunda... jujur saja, itu membuatku agak trauma dan terlalu cepat menarik kesimpulan saat Pak Nikko bicara seperti itu."Satrio menggeleng pelan, sorot matanya melembut. "Kamu tidak salah, Malika. Justru aku yang harus meminta maaf karena lingkungan di sekitarku sering kali menyeretmu ke dalam masalah."Malika tersenyum kecil, binar matanya kembali bersih dan hangat seperti saat mereka masih sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus. "Sudahlah, yang penting semuanya sudah jelas. Hari sudah mulai malam, aku harus segera pulang sebelum jalanan semakin macet.""Mari kuantar sampai ke depan lobi," ajak Satrio, melangkah di samping Malika dengan jarak yang sangat sopan.Sepanjang perjalanan menuju lantai bawah, suasana di antara mereka terasa begitu tenang. Ketiada
Satrio tidak segera bersuara. Ia melangkah tenang menuju dispenser, membiarkan bunyi aliran air yang mengisi gelas kacanya menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan mencekam di dalam pantry. Di balik kemeja abu-abu gelapnya, liontin giok pemikat berdenyut stabil, memancarkan gelombang yang perlahan menyerap hawa panas yang menguar di antara keempat wanita itu.Setelah meneguk airnya hingga setengah gelas, Satrio membalikkan tubuhnya. Sepasang matanya menyapu wajah mereka satu per satu dengan tatapan datar, namun sarat akan intimidasi yang mendalam."Jika agenda utama kalian berkumpul di sini adalah untuk membicarakan kejadian di lantai lima, aku sarankan kalian segera kembali ke meja kerja masing-masing," ucap Satrio dengan suaranya yang rendah, berat, dan penuh penekanan.Kata-kata Satrio yang begitu dingin dan menusuk seketika meruntuhkan keberanian Adirah dan Selina. Adirah menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas cangkir tehnya dengan wajah yang kembali memucat karena
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me







